Posted by: ordinaryoktaviani on: Oktober 28, 2009
Readers..
Pukul 6 sore pada saat saya mulai mengetik untuk postingan kali ini. Saya masih di kantor, seperti biasa. Harusnya saya mengerjakan proposal untuk seminar politik kerjasama kantor saya dengan sebuah surat kabar. Acaranya akan diadakan 16 Desember nanti. Tepat Beberapa hari setelah roadshow 5 kota saya selesai. But well, saya memilih untuk menulis di blog ini saja. Pusing-pusing saya belum hilang. Kadang memang hilang, tapi cuma sebentar-sebentar saja. Saya sempat ke dokter kantor dan diberi obat untuk menaikkan tekanan darah. Nama obatnya ATP. Harus saya minum sehari sekali.
Okay. 25 Oktober lalu adalah hari Ulang Tahun saya ke 26. Many things happen surely memaknai pergantian usia saya. Termasuk hal-hal yang membuat saya tambah menyadari banyak konsekwensi yang harus saya jalani berkaitan dengan memutuskan menjadi seseorang yang tidak lagi cuek seperti beberapa tahun yang lalu.
Saya semakin menyadari bahwa “menghaluskan” hati dan perasaan berdampak sangat besar pada keseharian saya, cara bersikap saya juga cara menyikapi orang lain. Yup, Kali ini saya banyak belajar tentang perasaan-perasaan baru yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Perasaan lebih peka. Lebih peka terhadap segala hal di sekeliling saya.
Menjadi peka a.k.a tidak cuek kadang membuat saya lelah. Ketika itulah pembelajaran tentang menyeimbangkan muncul. Kepekaan hati juga butuh diseimbangkan. Bagaimana bisa mengerti perasaan orang lain dengan tidak mengabaikan perasaan kita sendiri. As simple as that?? Yea, you told me about it. Hahahaha.
Kepekaan terhadap profesi yang sekarang saya tekuni. Nyatanya menjadi Public Relations bukan sekedar profesi semata. Bagi saya menjadi seorang PR merupakan panggilan jiwa. Lalu menjadi PR disebuah perusahaan BUMN a.k.a “milik negara” merupakan jalan hidup. Jalan hidup yang saya pilih sendiri. Berhubungan dengan birokrasi, politik, intrik, Hahhh… Kepekaan juga diasah dengan hal-hal tersebut.
Readers.. Alhamdulillah saya sungguh merasa terberkahi dengan kehadiran orang-orang disekeliling saya. Tak lepas dari kadang mereka membuat saya kesal dan kadang juga saya yang membuat mereka kesal. Human, rite?! ![]()
Mengingat itu membuat saya menundukkan kepala sejenak, memejamkan mata, kemudian memohon, “Allah, tolong bantu saya untuk dapat menikmati semuanya, yang saya miliki dan tidak saya miliki dengan segenap hati saya.. Amin.”
Dan untuk Adek. Saya cuma ingin bilang terimakasih banyak untuk semuanya tanpa kecuali. Kamu membuat saya belajar tentang banyak hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya
Terimakasih untuk tetap menjadi bagian dari hidup saya
I’m a lucky Big Sist :-* Adek, kamu berarti banyak bagi saya
Readers, i have to stop rite now. My job is calling me. Thank you for reading, thank you for stop by
Eh iya, Selamat Hari Sumpah Pemuda para Pemuda Indonesia!! Mari kita bangun Indonesia bersama-sama!! Yeayy!! ![]()
Oktaviani, Pamit!
^_^
Posted by: ordinaryoktaviani on: Oktober 23, 2009
Aku tahu.
Terkadang dia merenungkan.
Tugasnya mungkin memang hanya mengantarkan seseorang, seseorang dan seseorang lainnya.
Mengantarkan mereka sampai menemukan lingkungan dimana seharusnya mereka berada.
Mengantarkan mereka sampai menemukan orang-orang dimana mereka merasa nyaman.
Mengantar. Lalu sudah.
Dia akan berbalik badan sementara tak ada yang memanggilnya juga untuk tetap tinggal.
Mungkin memang karena tugasnya hanya mengantar. Lalu sudah.
Posted by: ordinaryoktaviani on: Oktober 21, 2009
Oke. Langsung saja y.
Saya mengalami phobia gempa nih. Jadi ceritanya kantor saya berada di Lantai 19 sebuah gedung di daerah Jakarta Pusat. Gempa di Sukabumi dan Ujung Kulon yang terakhir kemarin, membuat gedung tempat saya bekerja itu seperti diombang-ambingkan. Perasaan bercampur jadi satu antara takut, panik dan pasrah. Habis itu kepala langsung terasa pusing.
Setelah kejadian dua gempa itu saya seperti sering merasa ruangan kerja saya bergoyang. Rasanya nggak enak. Nggak nyaman. Nggak bisa konsentrasi bekerja. Bawaannya takut. Nggak pengen lama-lama berada di lantai 19 dan lantai-lantai tinggi dimana pun itu. Kalau Anda mau percaya, yang saya takutkan bukan mati, tapi takut gempa. Bagi saya itu beda.
Hampir selalu merasa “gempa” tidak hanya saya rasakan ketika di kantor, tapi juga ditempat lain seperti mall, bahkan rumah. Beberapa kali saya bangun dari tidur karena merasa bumi bergoyang. Sampai-sampai mengigau tentang gempa.
Umm.. Mungkin saya juga sedang nggak sehat juga sih. Waktu terakhir kali diperiksa dokter kurang lebih sebulan lalu, tekanan darah saya cukup rendah yaitu 90/60. Mungkin karena sedang puasa juga ya. Saya pikir phobia gempa ini mungkin memang semakin diperparah dengan penyakit darah rendah saya yang membuat kepala mudah merasa pusing kliyengan.
Sekedar cerita, kira-kira sejak SMA saya selalu membawa tasbih setiap saya pergi dari rumah. Entah saya letakkan di dalam tas atau saya taruh di saku samping celana. Dulu setiap saya merasa takut akan sesuatu biasanya saya akan berdzikir menggunakan tasbih tersebut. Itu menciptakan efek nyaman dan tenang untuk saya. Belakangan, tasbih tetap saya bawa, namun intensitas saya berdzikir berkurang jauh. Saya anggap karena itu juga saya mengalami phobia. Supaya saya kembali ingat akan manfaat berdzikir..
Anyway, apapun lah sebabnya, yang pasti memiliki ketakutan berlebihan akan gempa seperti yang saya alami sekarang ini sangat nggak enak. Beneran deh. Suer. Saya juga ingin memeriksakan diri kembali nih ke dokter. Paling engga supaya kliyengan saya hilang. Saya ad roadshow 5 kota awal november sampai awal desember ini. Mudah-mudahan kondisi mental dan fisik saya membaik. Jadi tugas pamungkas tahun ini bisa terlaksana dengan baik. Amin.
Tengkyu for reading gurlz!
Oktaviani here, signing off!
Posted by: ordinaryoktaviani on: Oktober 12, 2009
Kata orang teknik di kantor yang “meriksa” laptop saya itu, laptop saya rusak VGAnya. Kalau mau diganti biayanya sekitar 1,5 juta. Katanya penyebab utamanya rusak karena sering dimatikan secara paksa. Huuuffftttt
. Sejak setahun yang lalu, laptop itu berpindah tangan dari saya ke Anggi (adik saya). Dia sering banget nyalain laptop malem-malem terus ditinggal tidur sampai pagi hanya untuk nyalain mp3nya!!! Padahal dia juga sudah punya mp3 sendiri dan juga radio CD di kamarnya. Sering saya tegur
tapi malah jadi berantem
. Arrrrrggghhhhhhhhh!!!

Hhhh…
Bisa aja sebenernya kalo mau saya langsung benerin, tapi saya juga masih punya banyak kebutuhan mendesak akhir-akhir ini. Seperti mesin cuci yang rusak dan minta diservice, tahap akhir penyelesaian renovasi rumah yang harus dicicil setiap bulannya (buat beli cat, beli pintu, dll), sampe printal-printil such as baterai esia saya juga sudah mulai minta diganti
.
Tadi pas diberitahu kalau leptop saya resmi rusak, seperti di film-film gitu, langsung terbayang masa-masa kebersamaan saya bersama si leptop. Huhuhuhuhuhu
. Sediiihhhhhh
. Saya skripsi sama leptop itu. Di leptop itu juga masih kesimpen berbagai file saya, baik itu tulisan, cerpen (yang sudah dipublish di majalah dan yang belum), file-file proposal yang pernah saya buat dan kerjakan, dan massiiihhhhhh banyakkk lagiiiiii
.
Sekarang PeEr saya adalah mesti menabung untuk beli laptop baru. Doakan saya yaa…Huhuhuhuhuhu 
Posted by: ordinaryoktaviani on: Oktober 8, 2009
Kamu tahu nggak?
Menjaga kedekatan itu lebih sulit daripada menciptakannya.
Menjaga keakraban hati itu tidak semudah seperti yang ada di bayangan kita.
Apalagi ketika dilingkari kesibukan.
Kamu tahu nggak?
Fakta mengatakan memang kedekatan dapat tergoyahkan.
Awalnya komunikasi yang berkurang.
Mulanya perhatian terjarakkan.
Kemudian berpasrah pada keadaan, Hmm.. pada kesibukan.
Lalu tidak ada yang saling mengingatkan.
Kita hanya berdiam. Tidak saling mengusahakan.
Semua kedekatan akan hilang.
Kamu tahu nggak?
Pertama-tama semua seperti sepele.
Semua seperti harus(nya) dibawa santai.
Dan nggak terasa sedikit-sedikit terkikis.
Terakhirnya baru kamu tahu kalau semua, sudah habis.
Itu fakta yang ku tahu.
Fakta tentang kedekatan.
Posted by: ordinaryoktaviani on: Oktober 8, 2009
Posted by: ordinaryoktaviani on: Oktober 6, 2009
Vanila mulai merasakan adanya masa peralihan. Sssttt.. Jangan berpikir yang macam-macam. Vanila hanya merasa ramai dunianya berkurang begitu cepat dan tiba-tiba. Jeritan yang biasanya ada berkurang, Protes-protes yang biasa hadir malah nyaris nol, Celotehan jadi jarang terdengar.
Vanila tahu ini semua proses yang sewajarnya terjadi dan sudah seharusnya ia bersyukur proses ini ada. Hanya saja rasanya sedikit aneh. Kadang malah terasa seperti kehilangan setengah raga. Tidak tahu harus berkata apa meski sudah ditanya. Sepertinya hanya ingin melihat keluar jendela saja. Memandang suasana Jakarta, mengamati gedung-gedung bertingkat yang tersebar sejauh mata memandang.
“Hhhhh..” Vanila jadi hobi menghela nafas. Entah mengapa menghela nafas menjadi hobinya beberapa hari terakhir. Sepertinya sejumput vitamin perlahan hilang akhir-akhir ini. Vitamin apa?? Vanila juga tidak tahu apa nama vitaminnya itu.
Mungkin Vanila mulai harus membiasakan keadaan jadi seperti sekarang. Atau… Apa mungkin tugas Vanila kali ini sudah mulai menemui ujung… Sudah hampir selesai… Hmm.. Vanila sungguh tidak mau setahun terakhir hanya menjalani catatan tugas dalam kehidupannya. Setahun terakhir adalah nyata bahagianya. Jadi Vanila ingin memohon agar bukannya sekedar tugas yang diberikan padanya dalam satu tahun terakhir.
Ya ya ya.. Vanila hanya sedang dalam proses peralihan. Coba saja kau tambahkan whip cream. Tapi dimana belinya ya? Vanila, aku juga tidak tahu.
Posted by: ordinaryoktaviani on: Oktober 3, 2009
Gw cukup melihat loe dari jauh.
Dan loe pun ternyata saat ini nggak bisa menggerakkan gw untuk mendatangi loe.
Masih sama sih.
Keren.
Dari dulu kan loe emang keren.
Nggak cewek nggak cowok juga mengakui itu.
Kenapa gw nggak bergerak ke arah loe?
Atau memanggil loe saja, loe pasti akan mendengarnya.
Nggak.
Bukan soal takut. Apa yang harus gw takutkan?!
Mungkin kali ini bagian gw hanya untuk melihat loe. Cukup.
Lain waktu. Mungkin. Akan tiba waktu untuk kita bertatap muka meski mungkin tidak sengaja.
Gw cukup melihat loe dari jauh.
Ketika loe berdiri nggak jauh di depan mata gw.
Dan gw tidak berbuat apa-apa.
Karena loe sendiri yang memilih untuk tidak lagi berdiri di depan hati gw.
Posted by: ordinaryoktaviani on: Agustus 25, 2009
Aku juga nggak tahu.
Kenapa pelukanmu bisa terasa sangat nyaman.
Seakan melindungiku.
Menenangkan.
Membuatku tak ingin lagi pergi.
Aku juga nggak tahu.
Sejak kapan aku membutuhkan pelukan pelukanmu.
Aku hanya tahu dipelukmu dan memelukmu membuatku lebih kuat.
Menjadikan ringan ketika sesuatu berjalan sangat berat.
Pelukanmu.
Aku rindu.
Posted by: ordinaryoktaviani on: Agustus 25, 2009
Tau ga ini menyakitkan.
lukanya menganga keluar.
Tapi aku akan bertahan.
buat kamu. dan buat mereka yg sayang kamu.
Komentar Terakhir