Lee Kepada Fee

Lee memohon supaya Fee menganggapnya seperti seorang kakak biasa. Seorang kakak yang boleh bertanya biarpun sudah mendapat petunjuk akan jawaban dari pertanyaannya. Lee hanya ingin mendapatkan jawaban langsung dari adiknya, seperti halnya kakak kakak yang lain.

Sepanjang perjalanan yang telah ia lalui, sepengetahuannya mereka-mereka itu hanya peduli tentang apa yang ia ketahui tentang mereka. Jarang sekali yang benar-benar peduli akan apa yang ia rasakan atau bagaimana ia berusaha menghadapi bayangan-bayangan memusingkan itu. Tapi itu mereka, bukan Fee dan Lee berusaha membiasakan diri dengan itu.

Mereka-mereka juga mengganggap bahwa Lee tak selayaknya bertanya, karena Lee telah mendapat bayangan-bayangan itu lebih dulu. Dan sekali lagi mereka bukan Fee. Lalu bagaimana ketika Fee yang melakukan itu kepada Lee??

Kaget, sedih dan sakit.. Sebenarnya bukan salah Fee juga. Fee juga manusia biasa yang punya berbagai perasaan. Perasaan ingin tahu (karena itu Fee bertanya pada Lee meski beberapa adalah pertanyaan yang memancing pertengkaran), Perasaan ingin menjadi egois sewaktu-waktu, Perasaan ingin menang, ingin terpenuhi semua yang diinginkan. Namun Fee mungkin hanya belum tahu kalau kakaknya, Lee belum cukup kuat untuk menghadapi semua perasaannya ketika itu.

Lee selalu ingin menceritakan semua cerita yang ia miliki pada Fee. Bukan karena ia ingin Fee melakukan hal yang sama, bukan. Tapi karena Fee adalah adiknya dan Lee hanya ingin membagi cerita kepada Fee. Kalaupun Fee bercerita kepadanya, Lee ingin Fee bercerita karena memang Fee ingin membagi ceritanya, bukan karena Fee menganggap Lee telah mengetahui terlebih dahulu tentang ceritanya melalui bayangan-bayangan itu.

Lee memohon supaya Fee menganggapnya seperti seorang kakak biasa. Kakak yang ingin memberikan yang terbaik yang Lee bisa. Kakak yang ingin menebus semua waktu dan rasa yang dulu sempat hilang diantara mereka. Kakak yang ingin selalu berusaha dapat mengerti Fee.

“Fee, kamu tahu nggak aku mimpi mereka bilang mereka menungguku.”

“Mereka??”

“Ya, mereka. Mereka yang rumahnya begitu jauh dari sini.”

“Mba e bilang sama mereka kalo mba e nggak mau ditungguin gitu.” Mba e adalah panggilan sayang Fee untuk Lee.

“Iya, aku udah bilang begitu ke mereka.” Ujar Lee sambil memeluk Fee kian erat.

Lee tak pernah punya keinginan sedikitpun untuk meninggalkan Fee. Ia juga berharap Fee seperti itu. Lee hanya ingin Fee mengerti bahwa Lee hadir untuk menjaga Fee. Ya.. hanya ingin menjaga.. Itu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s