Mengingat

Gaudeamus igitur
Juvenes dum sumus.
Gaudeamus igitur
Juvenes dum sumus.
Post jucundam juventutem
Post molestam senectutem
Nos habebit humus —
Nos habebit humus.

Hari ini entah kenapa tiba-tiba mulut saya mendendangkan Gaudeamus igitur. Lagu yang setahun lalu (lebih 4 bulan) dinyanyikan ketika wisuda dan beberapa tahun lalu dinyanyikan ketika menjadi MABA alias Mahasiswa Baru.
Saya ingat sekali, dulu ketika menyanyikan lagu ini merinding langsung terasa. Seperti ada hawa tersendiri di dalam lagu ini. Hawa hikmat, hawa syahdu.. Tergelitik untuk mengetahui lebih dalam tentang Gaudeamus igitur, Wikipediapun memberitahu saya tentangnya..

Gaudeamus igitur

Gaudeamus igitur (“Karenanya marilah kita bergembira”) adalah lagu berbahasa Latin yang merupakan lagu komersium akademik dan sering dinyanyikan di berbagai negara Eropa. Di negara-negara Barat, lagu ini dinyanyikan sebagai anthem dalam upacara kelulusan. Melodi lagu ini terinspirasi oleh lagu abad pertengahan, bishop of Bologna ciptaan Strada. Gaudeamus ini pada zaman dahulu di jerman merupakan lagu perjuangan kebebasan akademi.
Liriknya sendiri mencerminkan semangat para pelajar yang tetap semangat meskipun dengan pengetahuan bahwa pada suatu hari nanti kita semua akan mati, seperti terangkum dalam bait pertama pada baris ke-4 dan yang lebih diperjelas lagi pada isi bait ketiga, yang mengandung arti kesadaran akan dekatnya kematian dengan kehidupan manusia di bumi ini.
Dengan demikian bukanlah sebuah ‘ajakan’ untuk hidup dalam hedonisme seperti yang sering dituduhkan, hal ini dapat dilihat dari bait kedua dari stanza ini yang secara tersurat dan tersirat berisi pengakuan akan keberadaan alam lain setelah kematian yaitu surga dan neraka
Meskipun sering dipakai sebagai ‘lagu pembuka’ acara sebelum bersulang, sebagai sebuah kebiasaan di negara-negara Barat untuk merayakan sesuatu dengan minum bir, anggur, atau sampanye sebagai penghangat diri, lagu ini sendiri bukan dimaksudkan untuk mabuk-mabukan namun lebih kepada perayaan atas segala keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang, misalnya berhasil menyelesaikan pendidikan. Itulah sebabnya Gaudeamus igitur banyak dipakai di hampir seluruh universitas di dunia dalam acara wisuda.

Hmm.. ingatan saya kembali melayang. Berada di sebuah ruangan besar. Balairung, begitu nama ruangan itu. Bendera-bendera dengan logo Makara terpajang di bagian depan. Bendera-bendera itu punya warna yang berbeda-beda sesuai dengan warna masing-masing fakultas.

Setelah Gaudeamus igitur dinyanyikan, biasanya dua lagu berikut menyusul untuk ikut dinyanyikan. Lagu yang juga membuat bulu kuduk berdiri. Lagu dengan aura tersendiri. Lagu yang entah mengapa tidak pernah bisa kami nyanyikan dengan tidak hikmat.
Hymne Almamater
Cipta: H.S. Mutahar


Almamaterku setia berjasa
Universitas Indonesia
Kami wargamu
Bertekad bersatu
Kami amalkan tridharmamu
Dan Mengabdi Tuhan
Dan mengabdi bangsa
Dan Negara Indonesia


Genderang Universitas Indonesia


Universitas Indonesia universitas kami
Ibukota negara pusat ilmu budaya bangsa
Kami mahasiswa pengabdi cita
Ngejar ilmu pekerti luhur tuk nusa dan bangsa

Semangat, lincah, gembira
Sadar bertugas mulia
Berbakti dalam karya
Mahasiswa
Universitas Indonesia perlambang cita
Berdasarkan pancasila dasar negara
Kobarkan semangat kita demi ampera

Kangen. Kangen kampus. Kangen Depok. Kangen bukan karena nama besarnya (kata orang-orang). Tapi karena kampus itu menjadi salah satu penata hidup saya. Salah satu tempat paling berpengaruh dalam jejak langkah saya hingga hari ini. Ada yang mau temenin saya ke kampus? 

One thought on “Mengingat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s