I’M STILL A HUMAN

Human

Human - taken from fotolia.com

Beberapa waktu lalu seorang sahabat menulis dalam blognya. Judul tulisannya kali itu adalah, “I’m only human and I’m selfish.” Sahabat saya itu mengungkapkan sisi manusia yang lain dari dirinya yang mungkin belum dilihat atau diketahui oleh banyak orang. Ia memutuskan untuk menjadi seseorang yang untuk sementara waktu hanya ingin mengutamakan tentang perasaannya sendiri dan tidak begitu mempedulikan apa yang orang lain katakan tentangnya. Sahabat saya untuk sementara waktu hanya ingin didengarkan dan sedang tidak ingin mendengarkan. Untuk semua itu ia memiliki alasan yang menurutnya sangat kuat.

Semua ada waktunya, dan ketika sahabat saya berbagi tentang apa yang ia putuskan, untuk menjadi seseorang yang “egois”, saya menghormati keputusan tersebut tanpa ingin menilai itu benar atau salah. Beberapa orang yang saya tuakan pernah berkata bahwa di dunia ini apa yang benar dan apa yang salah adalah hasil dari kesepakatan antara manusia. Sebenarnya yang bisa menilai sesuatu benar atau salah yang sebenar-benarnya hanya Tuhan. Dan tentang perasaan bagi saya bukan tentang benar atau salah.

Sahabat saya benar, she’s a human and at some time human need to be selfish. Kita selalu perlu waktu untuk memanjakan diri kita sendiri. Tapi tentu saja kita harus mengerti batasannya.

Rasa. Berbagai macam rasa hadir dalam hidup. Rasa yang manusia tidak dapat mengendalikan kapan akan muncul rasa-rasa tersebut. Yang manusia dapat kendalikan adalah akibat atau konsekwensi yang akan ditimbulkan dari rasa tersebut. Contoh, katakan pada saya bagaimana kita bisa mengendalikan munculnya rasa CINTA atau SAYANG? Kamu BISA?

Saya memang tidak ingin berusaha mengendalikan perasaan milik sahabat saya. Entah itu perasaan penatnya, perasaan bosannya, perasaan marahnya, atau perasaan sedihnya sehingga ia mengambil keputusan untuk menjadi orang yang “egois”. Karena setiap manusia berhak merasakan setiap rasa yang ada, selama rasa itu tidak ia pergunakan untuk berbuat yang tidak baik dengan orang-orang disekitarnya.

Saya juga tidak ingin memberikan tengat waktu kepadanya atau memberi  “aba-aba” supaya ia tidak lama-lama dalam menjalani masa “egoisnya” itu. Lama atau cepat tidak akan membuat sahabat saya belajar tentang dirinya lebih jauh. Melainkan rasa cukup atau tidak cukup yang akan membuatnya tahu kapan ia harus kembali seperti semula. Sahabat saya akan jujur pada perasaannya. Pada kriteria-kriteria yang memberinya tanda kapan ia merasa cukup atau belum cukup.

Salah seorang teman dari sahabat saya tersebut mengekspresikan bahwa ia kurang setuju dengan keputusan yang sahabat saya ambil. Well, perbedaan selalu muncul untuk membuat kita belajar, bukan?! Paling tidak belajar untuk menghadapi perbedaan itu sendiri. Jadi, saya tidak ingin mempermasalahkan itu sama sekali karena kita tidak bisa mengatur rasa dan jalan pikiran orang lain. Selama perbedaan itu diekspresikan dengan cara yang baik maka semua yang berada dalam lingkaran perbedaan tersebut akan sama-sama belajar.

Saya. I’m also still a human. Saya punya rasa bosan, rasa marah, rasa lega, rasa tidak puas atau sebaliknya. Ada suatu waktu dimana berbagai rasa itu membuat saya harus mengambil keputusan untuk melindungi diri saya sendiri dan untuk tidak membiarkan orang lain dapat menjatuhkan saya begitu saja. Pernahkah kamu mendengar bahwa kamu tidak akan bisa dijatuhkan oleh siapapun kecuali ketika kamu mengijinkannya?

Manusia tidak pernah tidak terjatuh. Manusia tidak pernah tidak merasakan rasa sakit. Dan manusia wajib berusaha berdiri kembali dan keluar dari rasa sakit itu.

Kamu dan saya mungkin memiliki cara yang berbeda untuk keluar dari rasa sakit. Cara yang berbeda untuk melindungi diri. Selama cara saya dan kamu dikeluarkan tanpa merugikan orang lain, maka menurut saya semua akan baik-baik saja dan lagi-lagi kita akan belajar tentang perbedaan.

Salah satu syarat menjadi dewasa adalah dengan menyadari dan siap menerima setiap konsekwensi dari keputusan yang diambil.

Well, back to the title. I’m just trying to say that I’m also only a human. I’m still a human. Saya punya rasa dan manusia lain tidak berhak mengatur rasa saya. Berdasarkan rasa yang saya miliki, saya juga memiliki hak untuk mengambil sebuah keputusan dengan alasan yang (bagi saya) kuat dan saya harus memperhitungkan konsekwensi apa saja yang akan timbul dari keputusan saya. Jika ada sesuatu yang terjadi diluar perkiraan saya, maka itu adalah takdir.

Jika ada yang bertanya sampai kapan saya akan berada dalam keputusan saya. Maka jawabannya adalah sampai saya merasa cukup. Jangan tanya saya sampai kapan dalam hitungan angka. Karena saya hanya akan menjawab tidak tahu. Selalu ada waktu untuk semuanya, teman.

Oh ya, saya teringat perkataan seorang teman lama. Ia berkata jika kita berbuat baik maka berbuat baiklah karena memang sudah semestinya sebagai manusia kita berbuat baik. Kita berbuat baik bukan karena ingin dianggap baik,bukan  ingin memenuhi norma-norma tentang kebaikan yang pernah diajarkan kepada kita, namun karena hati kita merasa bahwa sudah seharusnya kita berbuat baik. Itu saja.

See ya folks!

🙂

6 thoughts on “I’M STILL A HUMAN

  1. Well said. Dosen saya juga pernah bilang, pengalaman (termasuk didalamnya perasaan) itu nggak pernah salah. Tinggal bagaimana kita mengolah, memaknai dan menindaklanjutinya.
    Thanks for reminding ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s