Menjelang 40 Hari Beliau Pergi

Menjelang 40 hari beliau pergi. Ibu saya berkata 40harian akan diadakan di kampung halaman beliau. Beliau adalah nenek saya. Ibu dari ibu saya.

Saya dan adik-adik saya cukup dekat dengan beliau. Tidak dekat-dekat sekali, tapi yah, cukup dekat. Semasa hidupnya beliau lumayan sering menginap di rumah saya untuk jangka waktu berbulan-bulan.

Hampir 40 hari yang lalu, kala itu saya sedang di kantor ketika menerima kabar duka. Sepanjang perjalanan pulang saya sibuk menahan air mata untuk tidak menetes. Namun tidak bisa. Tetap saja air mata itu menetes meski tidak sampai berurai.

Kala itu yang paling saya khawatirkan adalah ibu. Saya khawatir ibu saya mengalami syok. Alhamdulillah itu tidak terjadi. Ibu sudah cukup kuat. Sejak beberapa hari sebelumnya, ketika nenek saya terjatuh di rumah Bude dan sakitnya bertambah parah (beliau tinggal di rumah Bude – Kakak pertama Ibu) Ibu memang sudah berusaha ikhlas akan kemungkinan terburuk.

Saya ikut meronce bunga untuk diletakkan di atas keranda. Saya dan anggota keluarga yang lain mengikuti upacara pelepasan jenazah. Entah atas kekuatan apa saya berada di barisan depan ketika pemakaman berlangsung. Saya melihat bagaimana jenazah beliau dimasukkan ke liang lahat. Sedangkan Ibu saya, Ibu berada agak jauh dari saya di belakang, ditemani adik bungsu saya. Ibu takut tidak kuat melihat “episode” tersebut.

Saya menaburkan bunga di atas pusara beliau. Kemudian berdoa bersama.

Sepulangnya dari pemakaman terbersit di kepala saya, “Bagaimana bila saya tiada nanti?”, ketika nafas tidak lagi berhembus dari hidung saya, saat detak nadi tak lagi terasa dan ketika detak jantung tak lagi terdeteksi.. Apakah orang-orang yang saya sayangi akan berada di samping saya? Apakah sahabat-sahabat saya akan langsung datang melihat saya?Dan apakah teman-teman saya rela mengantar saya untuk yang terakhir kalinya disela kesibukan mereka?

Ketika saya dirawat di Rumah Sakit, seseorang yang saya anggap sahabat pernah mengatakan pada saya alasannya tidak datang menjenguk saya, “Soalnya Rumah Sakitnya jauh dari rumah gw. Lagipula mobil gw bensinnya lagi kosong.”

Well.. Kalau nanti makam saya berada jauh dari sahabat-sahabat, teman-teman atau orang-orang tersayang saya, akankah mereka tetap mengantar saya? Akankah mereka tetap rutin menjenguk saya?

Seberapa berartinya saya bagi mereka ketika saya tiada?

Hey.. saya rasa saya hampir melupakan pertanyaan yang paling “penting”. Apa saja yang sudah saya perbuat semasa hidup sehingga saya bisa menjadi seseorang yang patut mereka antar ke peristirahatan terakhir saya? Apa saja yang sudah saya lakukan semasa hidup sehingga dapat menjadi seseorang yang cukup berarti bagi mereka sehingga mereka rela meninggalkan kesibukkannya untuk melihat saya untuk yang terakhir kalinya?

Teman.., Semoga Tuhan selalu memberikan rahmat dan hidayahNya untuk kita.. Amin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s