Indonesiaku, Indonesiamu

Readers..

Kamis lalu kita semua menerima berita duka cita atas wafatnya Sang Maestro Keroncong, Gesang Martohartono dalam usia 92 tahun. Bengawan Solo adalah salah satu lagu ciptaannya yang mengharumkan Indonesia di mancanegara. Ya, Bengawan Solo memang mendunia.

Gesang, Sang Maestri Keroncong

Gesang, Sang Maestro Keroncong

Lagu ini diciptakan pada tahun 1940, ketika ia beusia 23 tahun. Gesang muda ketika itu sedang duduk di tepi Bengawan Solo, ia yang selalu kagum dengan sungai tersebut, terinspirasi untuk menciptakan sebuah lagu. Proses penciptaan lagu ini memakan waktu sekitar 6 bulan. Lagu Bengawan Solo juga memiliki popularitas tersendiri di luar negeri, terutama di Jepang. Bengawan Solo sempat digunakan dalam salah satu film layar lebar Jepang.

Menjelang meninggalnya, Gesang sempat meminta salah satu keluarganya untuk menuliskan beberapa  lirik lagu ciptaannya seperti Bengawan Solo, Sapu Tangan dan Jembatan Merah. Gesang juga pernah berpesan pada Bondan Prakoso untuk melestarikan music keroncong. Bondan Prakoso memang membentuk sebuah grup music bernama ‘Keroncong Protol’. Sebuah grup musik yang ingin mengangkat music tradisional Indonesia menjadi lebih akrab ditelinga anak mudanya a.k.a campursari gaya anak muda.

Ratusan pelajar dan masyarakat Solo mengantarkan Gesang ke peristirahatan terakhirnya dengan menyanyikan lagu Bengawan Solo. Saya membayangkan jika saya berada diantara mereka pasti perasaan ini terasa sesak. Menyanyikan lagu karya salah satu maestro Indonesia ketika kepergiannya, bagaimana itu tidak menjadi sesuatu yang menyedihkan sekaligus mengharukan.

Pagi tadi, Minggu, 23 Mei 2010 berita duka kembali terdengar. Ibu Hasri Ainun Habibie wafat kemarin sore waktu Jerman atau semalam waktu Jakarta dalam usia 72 tahun di rumah sakit Ludwig-Maximilians-Universitat, Klinikum Gro`hadern, Munchen, Jerman. Menurut rencana jenazahnya akan dipulangkan dari Jerman ke Indonesia pada Selasa (26/5).

Ainun Habibie

Ainun Habibie

Saya melihat tayangan mengenang Ibu Ainun di salah satu stasiun TV. Kembali mata saya berkaca-kaca melihat tayangan yang menggambarkan bagaimana Ibu Ainun begitu dekat dengan Bapak Habibie, Mantan Presiden ke-3 Republik ini.

Kalian boleh mengatakan saya cengeng. Ya, whatever.

Ibu Ainun memiliki jiwa sosial tinggi, terutama dengan dibentuknya yayasan beasiswa ORBIT dan Bank Mata untuk penyantun Mata Tunanetra.

PIhak keluarga meminta dalam rangka mengenang kepergian Almarhumah, sebaiknya ucapan belasungkawa tidak berupa karangan bunga, namun dimohon untuk menyumbangkan kepada yayasan yang selama hidupnya memang berati bagi Ibu Ainun. Ini ada dua maksud agar melestarikan amal sosial bagi ibu. Yang kedua, bagi yang menyumbang juga lebih berarti karena kalau hanya rangkaian bunga tidak lama paling dibuang.

See?? Bahkan pada saat meninggalnya, Ibu Ainun masih bisa membuat orang lain beramal.

Ketika saya menyadari orang-orang yang telah berbuat banyak untuk negeri ini berpulang biasanya saya akan terpaku, mengingat apa yang telah mereka lakukan selama ini, mengingat apa saja yang telah tertangkap di kepala dan mata saya tentang mereka. Meskipun saya tidak pernah bertemu mereka secara langsung.

Satu pertanyaan teman-teman.. Apakah kita dapat berbuat sama baiknya dengan mereka untuk negeri ini? Atau paling tidak hampir menyamai apa yang telah mereka perbuat.. Atau paling tidak lainnya adalah… Dapat “mempengaruhi”orang lain/sekeliling kita untuk berbuat sesuatu yang baik, yang berguna untuk bagian-bagian dari negeri ini..

Nasionalis, Idealis, namun harus diimbangin dengan kerealistisan. Atau mungkin kita masih sebatas “Hanya bisa complain?” Are You?

*(Menundukkan Kepala) Tuhan, terimalah mereka disisi Mu. Terima segala amal dan ibadahnya. Ampuni segala dosa-dosanya. Dan bantulah kami untuk meneruskan segala langkah dan niat baik mereka. Amin.

Ah.. saya jadi teringat ketika perhelatan Piala Thomas dan Uber digelar. Meski Indonesia belum berhasil membawa pulang Piala Uber dan Thomas ke Indonesia, namun para supporter Indonesia di Malaysia tetap menyemangati Tim Thomas dan Uber. Mereka semua seakan ingin menunjukkan penghormatan yang besar atas perjuangan setiap orang yang ada di tim tersebut. That’s Great!

O iya, ingat nggak saya pernah posting kalau saya koleksi kaos-kaos Indonesia. Itu tuh yang ada tulisan atau gambar tentang daerah atau propinsi yang ada di Indonesia.

Sejak terakhir saya posting tentang kaos-kaos itu (klik disini), sekarang koleksi saya bertambah tiga buah.

BANDUNG

BANDUNG

Pertama, saya titip Mba Ida (teman kantor saya) waktu dia ke Bandung untuk acara kantor.

PANGANDARAN

PANGANDARAN

Kedua, saya dapat kaos oleh-oleh dari Nda waktu dia ke Pangandaran buat “menyepi” hehehe. Sebelumnya, waktu Nda ke Belitong untuk sebuah pekerjaan, dia juga membawakan saya kaos bertuliskan Belitong. Eh, Nda juga punya blog loh. Bisa dilihat disini www.justordianrynda.blogspot.com

TORAJA

TORAJA

Ketiga, what a surprise, Dina mengirimkan sebuah kaos dari Toraja a.k.a Makasar kepada saya. Ternyata adiknya Dina bekerja di Makasar dan melalui adiknya itu Dina membelikan saya sebuah Kaos Toraja. Huaaaaa Senenggggg Banget!

To All, Terimakasih buat kaos-kaosnyaaaa! ^_^

Seorang teman yang sempat mengetahui bahwa saya mengoleksi kaos-kaos seperti itu pernah berkata, “Kaos-kaos begitukan bias dibeli di pasar-pasar. Kayak orang mau jualan aja loe. Mendingan tu yang dari Singapura, atau Vietnam, atau Negara mana kek gitu. Lebih prestise.”

Saya tersenyum, dan hanya menjawab, “Aku orang Indonesia. Bukan orang Singapura, Vietnam, atau Negara lain.”

Buat saya, Indonesia itu nggak kurang prestise dari Negara manapun di dunia. Menurut kamu?

Dan yang ini

Muka Terbaret Sesuatu

Muka Terbaret Sesuatu

Sebelah Kiri Juga Tapi Gak Begitu Tebal

Sebelah Kiri Juga Tapi Gak Begitu Tebal

No, no, ini memang bukan kaos Indonesia. Ini juga bukan design untuk sebuah kaos. Ini wajah saya. Lihat ada garis menghiasi pinggir pipi saya? Awalnya sempat berdarah. Kalau ditanya kenapa, saya jawab, “Nggak tahu.” Yang pasti sempet periihhhhhhh. Ah y sudahlah😀

Adek menertawakan wajah saya itu ketika kami ke Ambassador untuk menginstal ulang Windows 7 di netbook saya.

Sedangkan Nda a.k.a Teteh, di telepon dia bilang, “Lo jadi si codet dari Jatiwaringin ya Ti?!” Siyal. Nggak secodet itukan?!

Well Folks, I’m hungry. Need to eat right now. So, see ya!

Dari segala sumber

2 thoughts on “Indonesiaku, Indonesiamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s