Do You Want Any Celengan, People?

Readers!

How u doin’? Hope it’s good 😉

How’s ur account? Is it good either? 😉

Today in the morning, from the radio I heard about BCA issue. Some customers have reported to BCA it self about their “mysteriously missing” money. Yup, some customers lost their money from their own account. But, this “mysterious” case absolutely has nothing to do with something magic, or Dukun or Voodoo hehehey.

When announcer from my favourite radio announced about this thing, I suddenly think about my mom and dad. They have an account on BCA, and I’m not. Few minutes later the announcer said that it’s happened to customer who was gone to Bali these past few days. In other word the crime occurs through ATM-ATM is located in Bali. I feel a bit relieve. But hey, we have to stay awake from any possibility, right?! According to the BCA, recording the PIN may have occurred. Person or Syndicate who are doing this might an international syndicate, and we have to be careful because they could have done the action outside Bali region.

About BCA, I found this from Mbah Wiki:

Bank Central Asia is a biggest private Bank in Indonesia, founded on August 10, 1955 as Bank Central Asia NV . The Founder is Sudono Salim. The Asian monetary crisis in 1997 had a tremendous impact on Indonesia’s entire banking system. In particular, it affected BCA’s cash flow and even threatened its survival. Panic rush forced the bank to seek assistance from the Indonesian government. The Indonesian Bank Restructuring Agency took over control of the bank in 1998.

Thanks to its management’s business sagacity and shrewd decision making, full recovery was accomplished later in the same year. In December 1998, third-party funds were back at the pre-crisis level. BCA’s assets stood at Rp 67.93 trillion, as opposed to Rp 53.36 trillion in December 1997. Public confidence in BCA was fully restored, and BCA was released by IBRA to BI in 2000.

Well, I’m sure lot of people think that BCA is a very credible Bank. But folks, criminal always trying to find a way to ruin everything. Nothing perfect theory is always valid, people (The only impossible thing is the impossible it self). Any of you interested to save your money in Celengan? Hihihi. I did that. I have a Celengan since about a few weeks ago. When I bought it, I just thought I wanna try saving my coin, or selembar seribu or selembar duaribuan. I think i’ts gonna be fun, in the end when my Celengan is full I’m gonna open it and find “a treasure” . Hihihihi. Honestly, it’s also inspired by Koin Untuk Prita. Hehehehe.

So, Celengan, anyone? :p

Celengan1

Celengan2


Note: Few days ago when Mba Tiara (my colleague) gone to Aceh, I asked her to buy “an Aceh Shirt” for me which is gonna add my collection :p I’m showing it here! Thank you Mba Tiara! ^_^


Kaos Aceh - Depan

Kaos Aceh - Belakang

Advertisements

Terbayang Olehku Bali dan Yogya – Part I

Hari ini hari Kamis. Belum weekend. Namun entah mengapa sore ini lalu lintas padat sekali. Saking padatnya sampai-sampai bagiku mirip dengan kepadatan malam tahun baru. Mengalami kepadatan (bisa disebut juga kemacetan yang parah) tiba-tiba yang terbayang diingatanku adalah Bali dan Yogyakarta.

Bali. Provinsi dengan ibukota Denpasar ini buatku adalah kota yang tenang. Seramai apapun situasinya, seramai apapun orang-orangnya Bali memiliki aura, feel yang tenang. Sejauh apapun kaki melangkah sering ditemukan sesaji-sesaji yang menandakan masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu sangat dekat dengan Tuhannya, dengan keyakinannya.

Saking tenangnya, untukku pribadi ketika berada di Bali suara mesin mobil ataupun motor juga ikut terdengar halus, tenang. Seakan berbeda dengan mesin-mesin transportasi di Jakarta. Rasanya jarang sekali mendengar suara klakson di sana. Saat beberapa bulan belakangan cuaca di Bali sedang sangat panas. Aku membuktikannya ketika November lalu Aku sempat seminggu berada di sana. Kata orang Bali sendiri, cuaca panas tersebut lebih extreme dari cuaca Bali biasanya.

Pantai Kuta

Walaupun panas berlebih, pantai Kuta tetap saja tidak sepi dari turis lokal dan internasional. Menikmati sarapan di pantai kuta dengan memandang langsung kearah laut dapat membuat pikiran lebih santai. Menunya bukan cuma masakan Bali namun juga masakan khas Jawa. Hey, jangan mengira sarapan dengan “gaya” ini akan menghabiskan uang banyak ya. Eh, tapi juga jangan membayangkan tempat kamu sarapan adalah restoran. Penjual makanan akan menggelar makanannya pada sebuah meja. Kemudian kamu bisa duduk langsung di pasir pantai atau memilih memakai kursi lipat kecil. Untuk delapan orang, sekitar 50ribuan cukup loh. Oke nggak tuh!

Daerah Kuta lebih identik dengan distro, hotel, pokoknya yang berhubungan dengan bersenang-senang dengan biaya yang harus dikeluarkan yahhh lumayanlah, tapi masih terjangkau (makanya kalau mau traveling nabungnya bukan cuma buat tiket, hotel , makan dan oleh-oleh tapi juga biaya bersenang-senang. Hehehehe) Semakin malam, Kuta semakin ramai. Biasanya wisatawan-wisatawan akan menghabiskan malam dengan duduk-duduk di pantai dan banyak juga yang kongko-kongko di cafe-café di depan pantai Kuta.

Lain Kuta lain Sanur. Katanya sih hotel-hotel di Sanur lebih murah dibandingkan dengan hotel-hotel di Kuta. Sanur di mataku identik dengan perumahan. Melalui Sanur aku (sedikit) mendapat gambaran kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Di sini terdapat banyak kantor-kantor pemerintahan. Kantor-kantor tetap dengan arsitektur Bali yang kental. Ah jangan dibandingkan dengan kantor-kantor di Jakarta yang bentuknya monoton. Lalu aku juga nggak akan lupa dengan bangunan Monumen Rakyat Bali di Renon.

Monumen Rakyat Bali

Mengunjungi setiap daerah pasti kamu nggak mau pulang dengan tangan kosongkan?! Berburu oleh-oleh di pasar Sukowati dapat menjadi keasyikan tersendiri, apalagi buat yang jago nawar. Buat yang mau beli oleh-oleh dalam jumlah banyak, Pasar Sukowati memang tempat yang tepat. Tapi ada juga tempat lain yang bisa menjadi alternatif untuk membeli oleh-oleh. Toko Erlangga namanya. Toko layaknya toko swalayan ini juga menyediakan berbagai souvenir atau oleh-oleh yang tidak kalah lengkap dengan di Pasar Sukowati. Bedanya di Erlangga kita nggak bisa nawar dan harga barang persatuannya juga sedikit lebih mahal. Sebagai contoh, kain bali di Pasar Sukowati dapat kita beli dengan harga Rp 12.500 perbuah. Sedangkan di Erlangga dijual kalau nggak salah sekitar Rp 17.000 perbuah. Perbedaan lainnya antara Sukowati dengan Erlangga tentu saja di Sukowati kita akan sering kipas-kipas sedangkan Erlangga yang pakai AC membuat kita terasa sejuk saat berbelanja.

Toko Oleh-Oleh Erlangga

Umm, ngomong-ngomong tentang tawar menawar. Seni menawar nggak menitik beratkan hanya pada kepuasan pembeli mendapatkan barang dengan harga rendah. Menawar harus tetap menggunakan hati. Inget loh, pedagang itukan profesi. Para pedagang berdagang untuk mencari uang. Menghidupi diri mereka juga keluarga mereka. Jadi yaaa tetap pakai hati ya kalau lagi nawar. Apalagi kalau yang jual nenek-nenek yang untuk menghitung berapa kembalian uang kita saja masih bertanya pada kita seperti ini, “Jadi kembaliannya berapa ya?” Kalau ketemu yang seperti itu jangan dikerjain ya. Kasihan tahu! Seni menawar itu terletak pada bagaimana kita mendapatkan barang yang kita inginkan dengan harga yang pas di hati kita dan di hati penjualnya. Susah-susah gampang. Kadang kita jangan kalah ngotot juga sama pedagangnya. Asal ya itu tadi, harga yang kita minta masih logis untuk barang yang kita mau.

Pasar Sukowati

Masih banyak sih daerah-daerah lainnya di Bali. Pernak perniknya juga masih banyaakkkkkk banget. Lain kali posting lebih banyak tentang Bali deh. Hihihihi. Hmm… Bagaimanapun Kuta, bagaimanapun Sanur, Denpasar, Pasar Sukowati, Toko Erlangga, jika orang menyebutkan kata Denpasar atau Bali. Maka yang langsung terbersit di kepalaku adalah Tenang. Yup, aura ketenangan, kedamaian di Bali menjadi salah satu favoritku tentang Bali.

Next Post: Yogyakarta! (According to my mind, Folks :p )

Sholat Idul Adha Di Bali

Saya lagi ngawang nih. Lagi “dapet” hari pertama. Hampir pingsan tadi pagi pas berangkat ke kantor. Sekarang rasanya ngawang. Saya mesti bikin rundown sama script MC buat acara penandatangan sama Kantor Berita Taiwan, sama Taiwan Radio International juga. Nggak, nggak, ‘epse’ nggak ikutan diacara penandatanganan ini. (yaiyalah odonggg).

E iya, sesuai judulnya saya mau cerita tentang sholad idul Adha di Bali beberapa waktu lalu itu lohhh.

Begini ceritanya.

Saya sekamar sama Mba Tika. Kita bangun telat. Jam enam kurang lima belas mba Tika teriak teriak karena jenggotnya kebakaran. Nggak nggak, bukan bukan. Mba Tika teriak-teriak bangunin saya karena shock ngeliat jam udah jam enam kurang lima belas itu. Padahal gosip-gosipnya sholat ied di situ mulainya jam enam. Saya sama teman-teman yang sholat ied secara kita juga bukan penduduk lokal niatnya jangan sampe bangun kesiangan. Tapi yah apa daya.

Mba Tika (lari bolak balik bolak balik panik): Estiiiii!!! Bangun Tiii!!! Telattt kitaaaa!!!

Saya (bingung ngeliatin mba tika bolak balik): Hoaammmm, Iya iyaaa.

Mba Tika: Gw mandi duluan dehhh!!

Saya (pasrah): Ho’oh

Mba Tika mandi, saya? saya ngelipet lengan kemeja yang mau saya pake sholat. Tu kemeja adalah satu-satunya pakaian yang pantes buat dipakai Sholat Ied. Baju saya yang lain tinggal sisa kaos. Ad batik tapi udah dipakai alias kotor.

Selesai Mba Tika mandi, gantian saya yang masuk kamar mandi (kalo masuk bilik tandanya mau nyoblos). Belum ada lima menit saya di kamar mandi, Suara Mba Tika terdengar lagi.

Mba Tika: Estiiiiii, cepetaaannnn Tiiii! Udah telattt kitaaaa!

Saya (Bales teriak dari dalam kamar mandi): Iyeeeee! Set Dah! Bentar dulu kenapaaaa!.

Fyi yah, paling nggak suka deh diburu-buru kayak bgitu.

Keluar dari kamar mandi saya masih bekah bekuh.

Saya: Ini masih jam enam lewat dikit gituuuu. Bukannya Sholat Ied mulainya jam 7 yahhh.

Mba Tika sibuk beberes apa-apa yang mesti dibawa.

Saya, mba Tika sama Mba Diah plus Mas Wawan akhirnya Sholat di Lapangan Renon gitu. Lapangannya luassssss deh (klo biasa aja namanya aula, dongo). Sampe di sana kami ngeliat banyak banget balon-balon mainan dengan bentuk Motor-motoran, Sponge Bob, Dora, Diego, dll. Banyak banget ibu/bapak yang sholat bawa anak-anaknya beli balon-balon itu. Jadi deh Sponge Bob, Dora sama Diego ikutan sholat ied.

Di Lapangan Renon itu ada Monumen Perjuangan Rakyat Bali. Bentuknya kayak mini candi borobudur gitu.  Katanya di dalemnya ada museumnya. Tadinya pengen banget masuk museum itu. Tapi ternyata waktunya nggak cukup karena mesti cepet-cepet check out dari hotel, abis itu ke Bandara deh.

Selesai sholat, kan ada ceramah dulu kan. Ada orang-orang yang sudah pulang pas ceramah masih berlangsung. Terussss, tiba-tiba khotibnya ngomong sambil teriak.

Khotib: Jangannn pulang duuluuu!! Dengarkan ceramah ini sampaii selesaii!! Berhentiii!! Jangann pulanggg duluuu!!

Gitu deh kira-kira.

Saya pandang-pandangan sama mba tika sama mba Diah (Klo pandang-pandangan sama bule ganteng ntar gw flirting). sampe segitunya tu Khotib teriak. Udah kayak ngajakin jihad. Habis itu, yang mau pulang mah teteppp ajaa pulang. Nggak peduli ada yang neriakin.

Ketika menuju tempat parkir saya, mba diah dan mba tika ngeliat ada tukang sate. Baunya enak deh. Tu asep sate udah nyebarin wangi kemana-mana. Didorong oleh rasa lapar, ngebayangin makan sate kayaknya enak. Ternyata Mba Tika sama Mba Diah juga memiliki angan-angan yang sama dengan saya. Hihihi.

Dengan gegap gempita kamipun mendekati si tukang sate. Terus mengamati lebih dulu karena si tukang sate sedang melayani pembeli.

Mba Diah: Eh sate apaan ya tu???

Mba Tika: Eh iya. Enak kayaknya.

Saya (Sotoy): Sate kikil deh kayaknya.

Mba Tika: Kikil apa ayam itu???

Mba Diah: Beli yuk beli yuk, Laper nih.

Saya: Iyah, laper.

Kami pun mulai antri.

Saya (sambil senyum maniez): Pak, ini sate apa Pak?

Penjual sate (cool): Babi

Saya: (senyum kaku binti pait)

Mba Diah: Hah?? Babi yah???

Saya: ho’oh

Mba tika: Eh apaan tadi itu sate?? Babi??

Saya: Iye.

Mba Diah: Kita udah ngirup baunya. Haram nggak tu bau nya???

Mba Tika: Iyah, baunya wangi.

Saya: Sayang babi..

:p

Kami pun langsung beranjak menuju tempat parkir menunggu Mas Wawan dan Mas Dhanny, kemudian balik ke Hotel.