We Can Do Better, People – Masih Sering Pakai Kresek?

Teman-teman, bencana belum reda. Korban Mentawai dan Wasior masih membutuhkan “uluran hati” kita. Merapi juga masih membuat Jogjakarta dan sekitarnya belum bisa bernafas lega. Dan saya percaya, kita semua bergerak, teman-teman. Sekecil apapun bentuknya, sesederhanapun itu, saya yakin hati orang-orang di negara ini tidak mati.

Di tengah bencana yang ada, kita yang saat ini berada di daerah aman bencana tentu harus melakukan sesuatu, bukan hanya untuk korban bencana, namun juga untuk lingkungan, untuk negara ini, yang nantinya akan berdampak untuk bumi.

Sabtu lalu, ditengah terik matahari yang membuat kepala sakit dan pusing saya bertandang ke Green Festival di Parkir Timur Senayan. Selain booth makanan, semua booth yang ada di sana “berjuang” demi lingkungan sekitar. Orang-orang yang datang kesana juga tentunya memiliki kepedulian tersendiri mengenai kelangsungan planet bumi.

KRESEK.

Salah satu kampanye yang digaungkan adalah ‘Stop Pemakaian Kresek’. Beberapa diantara kita mungkin lebih akrab menyebutnya dengan ‘Diet Kresek’. Kresek?? Iya Kresek. Kantong plastik kresek yang suka kita gunakan sebagai tempat membawa barang-barang belanjaan. Saat ini banyak pihak sudah mulai “mengeluarkan” kresek lebih ramah lingkungan yang katanya bisa hancur dalam waktu dua tahun setelah terkubur dalam tanah.

Waktu datang ke Pesta Blogger+ 30 Oktober lalu, saya juga sempat mengikuti diskusi tentang diet kresek. Dalam diskusi tersebut diakui bahwa masyarakat luas belum familiar dengan kampanye diet kresek. Sebabnya karena banyak diantara mereka yang belum teredukasi tentang bahaya kresek itu sendiri.

KRESEK BAHAYA? YA IYA.

Untuk lingkungan tentunya semakin banyak penggunaan kresek, terutama yang hanya digunakan untuk waktu yang singkat akan mengotori lingkungan, karena plastik kresek membutuhkan waktu RIBUAN tahun untuk dapat terurai. Ditambah lagi, masih banyak yang suka buang sampah sembarangan.

Bagaimana bahaya lainnya?

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menghimbau masyarakat untuk tidak lagi menggunakan Kantong plastik kresek terutama untuk wadah makanan, karena sebagian besar dari kresek tersebut merupakan hasil dari proses daur ulang.

Dalam proses daur ulang tersebut riwayat penggunaan sebelumnya tidak diketahui, apakah bekas wadah pestisida, limbah rumah sakit, kotoran hewan atau manusia, limbah logam berat dan lain-lain,” kata Kepala BPOM Husniah Rubiana Thamrin Akib (kompas.com).

Kotoran hewan atau manusia?? Yeuuhhh.. Mulailah ilfeel pada kresek, kawan.

Hasil penelitian I Made Arcana, dosen kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) menjelaskan, zat pewarna hitam yang digunakan untuk pewarna kantung plastik kresek itu jika terkena panas dapat terdegrasi dan mengeluarkan zat yang menjadi salah satu pemicu kanker. “Tidak dianjurkan menaruh makanan panas langsung dalam kantung plastik kresek, tetapi alasi dulu dengan daun atau kertas yang aman buat kesehatan, bukan kertas koran,” ujarnya.

“Dampaknya antara lain memicu penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf, dan memicu depresi,” ujarnya Arcana.

Ternyata dampak untuk kesehatan juga nggak kalah jahatnya sama dampak dari rokok. Mungkin di kresek itu sendiri perlu juga nantinya terdapat tulisan “Kresek ini dapat menyebabkan kanker, hepatitis, gangguan hati dan pemicu depresi”.

Plastik daur ulang ternyata nggak hanya dijadikan sebagai kantung plastik, tetapi juga produk lain seperti sedotan (waduh, gw sering nih minum pake sedotan), piring plastik kecil yang biasanya dipergunakan untuk wadah buah-buahan atau cake pada peringatan ulang tahun, dan gelas plastik berwarna.

Selain itu, jangan pernah mencoba membakarnya plastik kresek. Jika proses pembakarannya tidak sempurna, plastik akan mengurai di udara sebagai dioksin. Senyawa ini sangat berbahaya bila terhirup manusia (danshenplus.blogspot.com).


PEMERINTAH BAGAIMANA?

Pemerintah (kecuali kalau ada oknum) peduli kok. Sedikitnya 20 peritel di Jakarta menyatakan komitmennya untuk mengurangi penggunaan kantong plastik dalam kegiatannya, untuk mendukung program pengurangan kantong plastik di Jakarta yang digalang oleh Pemprov DKI dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI. Program pengurangan kantong plastik di mulai bersamaan dengan hari ulang tahun Jakarta Juni 2010.

Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLHD) sudah menyiapkan solusi pengganti kantong plastik berupa kantong baru yang terbuat dari bahan baku yang lebih mudah terurai. Salah satu alternatifnya yakni kantong plastik yang terbuat dari bahan baku singkong teknologi dari badan pengkajian dan penerapan teknologi (BPPT). Selain itu, masih akan dicari alternatif lainnya sesuai dengan studi yang akan dilaksanakan BPLHD (infogue.com).

Kamu mungkin ada ide lain?

KITA BISA APA?

Mulai dari diri kita sendiri (kemudian tularkan). Mulai bawa kantong belanja mu sendiri. Tolak baik-baik kalau diberi plastic kresek sehabis belanja. Apalagi kalau belanjaannya Cuma sedikit. Mendingan langsung dimasukan ke tas, atau ya itu, pakai tas atau kantong belanja sendiri.

Di greenfest saya membeli kantong belanja berbahan kain di booth MATOA. Sebelumnya saya memakai kantong belanja berbahan semi kain (apa ya itu nama sebenarnya..??) hadiah dari salah satu minuman kemasan (penggunaan minuman kemasan juga harus kita kurangi dengan membawa tempat minum sendiri).


Sekarang sudah banyak yang menjual kantong belanja non kresek dengan design-design yang menarik. Jadi kita bisa tetap stylish (teuteppp.. yuk yak yuukkk).


We Can Do Better, People 😉

Jangan lupa tetap ulurkan bantuan dan doa untuk teman-teman di daerah bencana yaaa.

Gambar diambil dari sini, sini dan sini.

We Can Do Better II – Kita Bisa Terus Berusaha Berbuat Untuk Sesama, Untuk Mereka yang Terkena Bencana


Pagi ini saya dengar di radio bahwa hujan abu vulkanik merapi sudah sampai Jogja. Tiba di kantor, saya katakan pada atasan saya bagaimana kalau kami menelfon kantor Biro Jogja untuk mengetahui keadaannya. Alhamdulillah karyawan dan wartawan kami di sana saat ini baik-baik saja. Biro Jawa Tengah juga masih bertugas.

Dari meja kerja, saya memandang keluar jendela. Hamparan gedung lah yang terlihat dari lantai 19 tempat kami bekerja. Namun yang terbayang di pelupuk mata saya adalah suasana di daerah bencana. Bagaimana makanannya.. Bagaiamana sanitasinya.. Bagaimana bertahan dengan listrik yang terbatas.. Padahal listrik menjadi salah satu fasilitas agar mereka tidak terisolasi. Supaya tetap bisa menginformasikan keadaan dan menyebarluaskan bantuan apa saja yang masih dibutuhkan.

Seorang teman menelfon kakaknya yang tinggal di daerah Sleman. Katanya mereka sekeluarga sedang di mobil, namun belum tahu mesti kemana. Mobil jalan merambat, katanya lagi. Debu tebal menyebabkan lalu lintas melambat.

“Dia orangnya kuat banget. Tapi tadi dia nangis.” Kata teman saya itu sambil mengusap mata yang mulai berkaca-kaca.

Jarak aman yang awalnya 10km melebar menjadi 15km, bahkan semalam dikabarkan telah menjadi 20km. Tekanan mental pasti sangat terasa. Takut. Kuatir. Bingung. Sedih. Semua bercampur. Akankah kita disini juga terus “bercampur” membantu dan mendoakan? Jawabannya harus iya, kawan.

Sementara kita di sini mengeluhkan kemacetan, di sana mereka bahkan sulit untuk makan. Di sini kita masih bisa ke mall beli baju, di sana mereka sibuk menghindari abu.

Saya sempat mohon bantuan informasi melalui twitter, mengenai posko yang siap menyalurkan bantuan pakaian. Beberapa teman langsung membalas terdapat drop point bantuan Merapi yang terletak di Jl. Cipete VIII no. 97, Cipete, Jakarta. Ternyata teman saya Nike juga berperan serta dalam drop point tersebut. Saya menelfon Nike dan mendapat keterangan lebih lanjut bahwa drop point tersebut juga menerima bantuan makanan jadi seperti biskuit. Bantuan-bantuan sebaiknya dikemas sejenis dalam satu dus.

Selesai menelfon Nike, tiba-tiba datang kabar baru di kantor. Katanya organisasi pecinta alam di kantor juga akan menghimpun bantuan. Oke, agak terlambat. Tapi ini lebih baik daripada tidak sama sekali?! Saya browsing lebih lanjut dan menemukan posko lain. Posko dari Nasution Family yang dibagi perwilayah di Jakarta sampai Bandung. Mereka juga bisa menjemput bantuan ke rumah.

Bagi yang ingin menyalurkan bantuan berupa uang tinggal pilih ingin lewat rekening mana, karena banyak rekening dibuka untuk menggalang bantuan dana. Salah satunya adalah 100 Hati Untuk Negeri oleh MRA Broadcast Media, dengan nomer rekening 217-3088.876 BCA cabang Kuningan atas nama PT Radio Antar Nusa Djaja.

Merapi belum berhenti beraksi. Mentawai dan Wasior juga masih butuh ‘Peduli’. Kita bisa berbuat sesuatu untuk yang membutuhkan di Indonesia yang kita cintai.

We can do better, people.

 

Gambar diambil dari sini dan sini

WE CAN DO BETTER, PEOPLE!

Denger-denger ada yang bilang kalau musim hujan mencapai puncak (ke-ekstrim-an)nya pertengahan November. Musim hujannya sendiri akan berlangsung sampai (ada yang bilang) Desember atau (ada yang bilang juga) Februari. Sedia payung sebelum hujan, ah itu mah biasa. Sekarang, sedia strategi sebelum banjir. Siapkan mental sebelum macet dan stuck di jalan ;D

Siapa sih yang suka macet? Apalagi sampai susah pulang. Nggak ada. Siapa sih yang seneng banjir datang? Kamu nggak suka. Saya juga. Lalu? Kesel? Marah? Sebel? Menyalahkan pemerintah? Boleh. Tapi jangan berhenti sampai situ dan mengulang hal itu-itu aja. Koreksi diri jangan lupa 😉

Merasa udah bayar pajak jadi berhak marah (nggak terarah) sama pemerintah? Jangan sombong ah. Bayar pajak tapi masih buang sampah sembarangan, ya percuma. Pembayar pajak juga masih banyak yang nggak mau naik angkutan umum. Maunya naik kendaraan pribadi. Bahkan banyak keluarga yang memiliki kendaraan pribadi lebih dari satu dan dipakai dalam waktu yang bersamaan. Nggak mau naik angkutan umum karena nggak nyaman? Nggak asik karena mesti naik turun? Oke deh.

Akibatnya jumlah kendaraan di Jakarta mencapai 6,7 juta unit, dengan pertumbuhan 1.172 unit per hari. Bandingkan dengan panjang jalan yang 7.650 kilometer, dan dengan pertumbuhan panjang jalan yang hanya 0,01 persen per tahun (tempo interaktif).

Belum lagi yang hobi bangun gedung-gedung di atas lahan yang seharusnya bisa jadi lahan hijau. Mereka juga bayar pajak loh. Membayar pajak itu konsekwensi mau tinggal di Jakarta. Kalau nggak bayar pajak, boro-boro macet, jalanan tol kayak sekarang aja mungkin kita nggak punya.

We can do better, people.

Bike to work bisa dicoba. Ikutan Gerakan Nebeng Nasional juga boleh. Kalau ada 4 orang tetanggaan, punya mobil semua, terus daerah beraktivitasnya searah, kenapa nggak gantian bawa mobilnya. Jadi 1 orang bawa mobil, sisanya nebeng.

Cape goes sepeda? Males ngurusin nebeng-nebengan? Tetep mau naik mobil pribadi? Atau masih tetep buang sampah sembarangan? Nggak bisa berbuat apa-apa ngeliat gedung-gedung baru ngambil lahan hijau? Ya udah, nggak usah kebanyakan nyalahin pemerintah. Cari celah, nikmati sajalah. Kalau perlu (dan bisa) malah bantu cari solusi dari permasalahan. Sampaikan kepada pihak yang benar dan berkaitan. Itu baru namanya kritik untuk pembangunan supaya bisa lebih baik di masa depan.

Kita nyanyi yuk. #Siapa suruh datang Jakarta//Siapa suruh datang Jakarta//Sendiri susah sendiri rasa//edoe…. sayang….#

Kalau Jakarta lagi “nggak ramah”, terus kita cuma bisa (selalu) marah-marah, lupa ya kalau cari uangnya juga di Jakarta?? Merasa rugi udah bayar pajak? Oke deh, kalau gitu pindah aja dari Jakarta dan cari tempat yang nggak usah bayar pajak 😉

Selagi masih ingin tinggal di Jakarta, bantu Jakarta semampu kita. Dimulai dari diri sendiri, dari hal yang “kecil”.

We Can Do Better, People.


Keluar dari Jakarta.

Negara kita dirundung duka. Bencana alam mulai dari Wasior, Tsunami di Mentawai, dan Merapi yang meletus di Yogyakarta. Kemana ormas-ormas yang (suka) mengatasnamakan agama dan menginginkan jihad?? Kemana orang-orang dan mahasiswa yang selalu bersemangat demo di jalanan??

Kenapa ormas-ormas itu nggak meramai-ramai datang ke TKP bencana? Atau berbondong bantu kumpulkan bantuan? Para pendemo harusnya bisa “berdemo” menyerukan cara bagaimana bisa membantu yang sedang membutuhkan. Mengingatkan masyarakat lainnya untuk tidak hanya berdiam.

We Can Do Better, People.

Bukan waktunya terlalu sibuk menuding pemerintah, bukan saatnya menjelekkan Presiden. Ada yang bilang ini tanda akhir jaman. Udah? Gitu aja? So what?? Terus kenapa??

Kita masih hidup di dunia. Nggak usah kebanyakan mengkambing hitamkan akhir jaman atau semacamnya. Tahu nggak, bencana ada sebagai tanda untuk berkaca serta ladang amal buat manusia.

We Can Do Better, People.

Kalau kamu bisa nonton David Foster, bisa makan di mall, malu lah kalau nggak menyisihkan buat membantu mereka yang kesulitan?!

Setiap hari rata-rata makan siang kamu 15.000? Pasti bisa dong menyisihkan 5000 setiap hari dalam hitungan seminggu buat makan mereka yg lagi butuh bahan makanan?!

Buat yang masih sekolah atau kuliah, bisa “patungan” sama temen-temen kumpulin sumbangan buat bencana alam.

We Can Do Better, People.

Nggak usah selalu uang. Periksa lemari di kamar. Cari pakaian yang bisa disumbangkan.

Punya uang pas-pas-an, baju udah banyak yang dikasih ke orang. Bantu doa tulus dari hati yang paling dalam kalau bisa nggak usah punya keinginan memperlihatkan ke orang-orang.

Media sosial manfaatkan secara maksimal. Berbagi informasi bencana. Berbagi cara untuk berbagi. Kalau kata adik saya, sekecil apapun hal yang kamu bagi mungkin saja berpengaruh banyak buat orang lain. Meskipun itu hanya sebuah status fb atau timeline twitter.

We Can Do Better, People.

Bank BCA, KCU Thamrin Jakarta, Nomor Rekening 206.300668.8, atas nama Kantor Pusat PMI. Bank Mandiri, KCP JKT Krakatau Steel, Nomor Rekening: 070-00-0011601-7, atas nama Palang Merah Indonesia.  BRI, KC Pancoran, Jakarta, Nomor Rekening: 0390-01-000030-30-3, atas nama Palang Merah Indonesia.

Eits, jangan langsung transfer. Cek dulu secara langsung di website PMI, sekalian cari tahu info lebih lanjut 😉

Atau kamu tinggal googling tempat lain yang juga menyalurkan bantuan.

Indonesia punya kita (semua). Bukan cuma Presiden dan Pemerintah saja yang harus berusaha. Kita juga! Pray for Indonesia, Act For Indonesia. Lakukan yang lebih nyata.

Come on! WE CAN DO BETTER, PEOPLE!


*gambar diambil dari www.holdyourpeace.net