Sesungguhnya Aku

Sesungguhnya..

Aku tidak butuh gelang, kalung, atau apapun yang dapat kamu pakaikan kepadaku.

Aku tidak butuh oleh-oleh dari segala penjuru tempat di dunia.

Aku tidak butuh barang-barang yang aku ingin kamu yang belikan untukku.

Aku tidak butuh benda sekalipun itu tanda pengikat kita.

Sesungguhnya..

Yang aku butuhkan itu kamu.

Disampingku.

Saling menggenggam tangan.

Saling memeluk.

Saling merangkul.

Saling meneriakkan semangat.

Di tengah semua “kegilaan’ ini.

Sesungguhnya cuma kamu yang aku mau.

Ya, hanya kamu..

Image

Advertisements

Perubahan Nggak Pernah Berubah

Kehidupan memang nggak pernah berhenti berputar. Siang dan malam terus datang bergantian. Perubahan tak terelakan, sekalipun dalam diam.

Berbagai perubahan juga hadir dalam diri saya. Perubahan yang kadang tak saya beberkan asal muasalnya, sebab musababnya, namun yang terpenting harus tahu apa konsekwensinya. Hey, kamu bisa menanyakannya langsung pada saya dan kita akan berdiskusi tentang perubahan yang terlihat entah pada saya, kamu atau dunia kita.

Ada orang-orang yang tetap berada di sisi, mencoba mengerti ketika perubahan tercipta. Adapula yang mencerca dan mempertanyakan. Adapula yang menjauh walau kejujuran atas sikap berubah sudah dikatakan secara terbuka. Kadang cerca dan berbagai tanya menjadi tanda kerinduan juga kasih sayang meskipun pahit rasanya.

Saya juga suka bertanya bila melihat perubahan. Mengapa berubah? Yang diawal begitu manis, sekarang seolah jadi biasa saja, malah suatu waktu cenderung hambar. Dulu bisa sabar, sekarang sabar hanya seperti kenangan. Yang waktu itu tenang, sekarang bisa terasa (sangat) menyakitkan.

Kemudian yang dulu tersampaikan, sekarang tersimpan. Apakah saya pernah mengatakan kalau ada waktunya saya bisa ”membaca pikiran”?? Itu melelahkan. Mengetahui kebohongan itu melelahkan. Kebohongan kata, kebohongan sikap, kebohongan perilaku. Lalu saya? Kadang saya hanya akan mengikuti kebohongan yang ada. Berpura-pura tidak tahu padahal tahu, berpura-pura tidak mengerti padahal sudah mengerti. Saya juga bisa menyimpan kata yang sebenarnya kepada siapapun juga, kecuali… tak ada kecualinya, apalagi pada orang yang mulai melakukan lebih dulu dari saya. Apakah itu ancaman atau bentuk kemarahan? Tidak. Saya lebih suka menyebutnya sebagai perubahan.

Sampai di situ kemudian selesai. Perubahan akan tetap menjadi perubahan.

Perubahan bisa membuat kita lebih mengerti. Sejauh mana sayang, seluas apa cinta, sedalam apa mengerti. Atau mungkin kita yang belum mau mengakui??

Dalam hitungan singkat perubahan bisa terjadi. Selalu ada latar, walaupun kadang latar sulit dijelaskan. Hanya sulit, bukan berarti tidak ada. Kadang latar masuk akal. Kadang seperti tidak masuk akal tapi perasaan terkuatkan. Hey, perasaan bukan hitung-hitungan dengan angka menjadi tanda kepastian. Seperti ketulusan, yang hanya bisa dijabarkan dengan dirasakan bukan dengan tulisan berlembar-lembar.

Menghadapi perubahan ada kemarahan, ketakutan, kegundahan, kebimbangan, tapi jangan lupakan akan ada juga harapan atau titik awal pembaruan.


Masing-masing punya cara sendiri dan berhak punya cara sendiri untuk menghadapi perubahan. Orang terkasih juga memiliki hak untuk mengingatkan jika kita terus menerus menghadapi dengan cara yang tidak wajar, sekaligus tidak sehat untuk badan.

Saya masih berusaha terus belajar mengerti apa itu perubahan. Mudah-mudahan perubahan juga mau terus belajar mengerti tentang saya.

Sampailah pada titik ini. Pada titik ini saya berubah lebih tua yang kata orang-orang sih seharusnya juga bisa jadi lebih dewasa. Saya sadar satu hal yang pasti harus tetap saya lakukan adalah bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan dan semua yang telah Ia ciptakan, termasuk perubahan-perubahan.

25 Oktober 2010

 

*gambar diambil dari www.matematikacerdas.wordpress.com

When tomorrow starts without me by David Romano (1993)

When tomorrow starts without me
And I’m not there to see;
If the sun should rise and find your eyes
All filled with tears for me.
I wish so much you wouldn’t cry
The way you did today;
While thinking of the many things
We didn’t get to say.

I know how much you love me
As much as I love you;
And each time that you think of me,
I know you’ll miss me too.
But when tomorrow starts without me
Please try to understand,
That an angel came and called my name
And took me by the hand.

She said my place was ready
In heaven far above;
And that I’d have to leave behind,
All those I dearly love.
But as I turned to walk away,
A tear fell from my eye;
For all my life, I’d always thought
I didn’t want to die.

I had so much to live for,
So much yet to do;
It seemed almost impossible,
That I was leaving you.
I thought of all the yesterdays,
The good ones and the bad;
I thought of all the love we shared,
And all the fun we had.


If I could relive yesterday
Just even for awhile,
I’d say goodbye and kiss you
And maybe see you smile.
But then I fully realized
That this could never be;
For emptiness and memories
Would take the place of me.

And when I thought of worldly things
I might miss come tomorrow;
I thought of you, and when I did,
My heart was filled with sorrow.
But when I walked through heaven’s gates
I felt so much at home;
When God looked down and smiled at me
From His great golden throne.

He said, “This is eternity
And all I’ve promised you;
Today your life on earth is past,
But here it all starts anew.”
“I promise no tomorrow,
But today will always last;
And since each day’s the same day,
There’s no longing for the past.”
“But you have been so faithful,
So trusting and so true;
Though at times you did do things,
You knew you shouldn’t do.”
“But you have been forgiven
And now at last you’re free;
So won’t you take my hand
And share my life with me?”

So when tomorrow starts without me,
Don’t think we’re far apart
For every time you think of me,
I’m right here in your heart.

Menjelang 40 Hari Beliau Pergi

Menjelang 40 hari beliau pergi. Ibu saya berkata 40harian akan diadakan di kampung halaman beliau. Beliau adalah nenek saya. Ibu dari ibu saya.

Saya dan adik-adik saya cukup dekat dengan beliau. Tidak dekat-dekat sekali, tapi yah, cukup dekat. Semasa hidupnya beliau lumayan sering menginap di rumah saya untuk jangka waktu berbulan-bulan.

Hampir 40 hari yang lalu, kala itu saya sedang di kantor ketika menerima kabar duka. Sepanjang perjalanan pulang saya sibuk menahan air mata untuk tidak menetes. Namun tidak bisa. Tetap saja air mata itu menetes meski tidak sampai berurai.

Kala itu yang paling saya khawatirkan adalah ibu. Saya khawatir ibu saya mengalami syok. Alhamdulillah itu tidak terjadi. Ibu sudah cukup kuat. Sejak beberapa hari sebelumnya, ketika nenek saya terjatuh di rumah Bude dan sakitnya bertambah parah (beliau tinggal di rumah Bude – Kakak pertama Ibu) Ibu memang sudah berusaha ikhlas akan kemungkinan terburuk.

Saya ikut meronce bunga untuk diletakkan di atas keranda. Saya dan anggota keluarga yang lain mengikuti upacara pelepasan jenazah. Entah atas kekuatan apa saya berada di barisan depan ketika pemakaman berlangsung. Saya melihat bagaimana jenazah beliau dimasukkan ke liang lahat. Sedangkan Ibu saya, Ibu berada agak jauh dari saya di belakang, ditemani adik bungsu saya. Ibu takut tidak kuat melihat “episode” tersebut.

Saya menaburkan bunga di atas pusara beliau. Kemudian berdoa bersama.

Sepulangnya dari pemakaman terbersit di kepala saya, “Bagaimana bila saya tiada nanti?”, ketika nafas tidak lagi berhembus dari hidung saya, saat detak nadi tak lagi terasa dan ketika detak jantung tak lagi terdeteksi.. Apakah orang-orang yang saya sayangi akan berada di samping saya? Apakah sahabat-sahabat saya akan langsung datang melihat saya?Dan apakah teman-teman saya rela mengantar saya untuk yang terakhir kalinya disela kesibukan mereka?

Ketika saya dirawat di Rumah Sakit, seseorang yang saya anggap sahabat pernah mengatakan pada saya alasannya tidak datang menjenguk saya, “Soalnya Rumah Sakitnya jauh dari rumah gw. Lagipula mobil gw bensinnya lagi kosong.”

Well.. Kalau nanti makam saya berada jauh dari sahabat-sahabat, teman-teman atau orang-orang tersayang saya, akankah mereka tetap mengantar saya? Akankah mereka tetap rutin menjenguk saya?

Seberapa berartinya saya bagi mereka ketika saya tiada?

Hey.. saya rasa saya hampir melupakan pertanyaan yang paling “penting”. Apa saja yang sudah saya perbuat semasa hidup sehingga saya bisa menjadi seseorang yang patut mereka antar ke peristirahatan terakhir saya? Apa saja yang sudah saya lakukan semasa hidup sehingga dapat menjadi seseorang yang cukup berarti bagi mereka sehingga mereka rela meninggalkan kesibukkannya untuk melihat saya untuk yang terakhir kalinya?

Teman.., Semoga Tuhan selalu memberikan rahmat dan hidayahNya untuk kita.. Amin..

Beri Aku Hidupku

Ia beranjak dari tempatnya. Aku yang sedari tadi memperhatikannya kemudian berjalan mengendap-endap menuju meja itu. Jelas terlihat dilayar netbooknya sebuah tulisan. Dan akupun membaca dalam diam. Mencerna setiap kalimat untuk sekedar mengetahui apa yang sedang ia rasakan dan pikirkan…

Beri Aku hidupku…

Aku menyayangimu.
Mencintaimu.
Sungguh sungguh aku tak berbohong.

Lebih dari bertahun-tahun.
Semuanya terlakukan untukmu.
Tak ada penyesalan.
Yang ada kewajiban.
Terimbangi rasa sayang.

Kini, pada masa ini..
Bolehkah aku meminta satu..?
Hidupku.

Sejak pertama sayapku memang rentan.
Namun begitu aku masih dapat terbang.
Kalaupun nanti sayapku harus pupus atau hilang.
Setidaknya aku pernah merasakan terbang sampai tinggi menyentuh awan.

Sungguh…
Ak hanya ingin merasakan terbang bebasku,
Berpetualang dalam rimbaku,
Melompat-lompat pada ketidakpastianku,
Menyusuri pintu-pintu labirinku.

Aku akan tetap mengingat awalku.
Tak lupa hakekatku.
Dan
Aku mohonkan dengan sangat padamu.
Tolong…
Beri aku hidupku..