WE CAN DO BETTER, PEOPLE!

Denger-denger ada yang bilang kalau musim hujan mencapai puncak (ke-ekstrim-an)nya pertengahan November. Musim hujannya sendiri akan berlangsung sampai (ada yang bilang) Desember atau (ada yang bilang juga) Februari. Sedia payung sebelum hujan, ah itu mah biasa. Sekarang, sedia strategi sebelum banjir. Siapkan mental sebelum macet dan stuck di jalan ;D

Siapa sih yang suka macet? Apalagi sampai susah pulang. Nggak ada. Siapa sih yang seneng banjir datang? Kamu nggak suka. Saya juga. Lalu? Kesel? Marah? Sebel? Menyalahkan pemerintah? Boleh. Tapi jangan berhenti sampai situ dan mengulang hal itu-itu aja. Koreksi diri jangan lupa 😉

Merasa udah bayar pajak jadi berhak marah (nggak terarah) sama pemerintah? Jangan sombong ah. Bayar pajak tapi masih buang sampah sembarangan, ya percuma. Pembayar pajak juga masih banyak yang nggak mau naik angkutan umum. Maunya naik kendaraan pribadi. Bahkan banyak keluarga yang memiliki kendaraan pribadi lebih dari satu dan dipakai dalam waktu yang bersamaan. Nggak mau naik angkutan umum karena nggak nyaman? Nggak asik karena mesti naik turun? Oke deh.

Akibatnya jumlah kendaraan di Jakarta mencapai 6,7 juta unit, dengan pertumbuhan 1.172 unit per hari. Bandingkan dengan panjang jalan yang 7.650 kilometer, dan dengan pertumbuhan panjang jalan yang hanya 0,01 persen per tahun (tempo interaktif).

Belum lagi yang hobi bangun gedung-gedung di atas lahan yang seharusnya bisa jadi lahan hijau. Mereka juga bayar pajak loh. Membayar pajak itu konsekwensi mau tinggal di Jakarta. Kalau nggak bayar pajak, boro-boro macet, jalanan tol kayak sekarang aja mungkin kita nggak punya.

We can do better, people.

Bike to work bisa dicoba. Ikutan Gerakan Nebeng Nasional juga boleh. Kalau ada 4 orang tetanggaan, punya mobil semua, terus daerah beraktivitasnya searah, kenapa nggak gantian bawa mobilnya. Jadi 1 orang bawa mobil, sisanya nebeng.

Cape goes sepeda? Males ngurusin nebeng-nebengan? Tetep mau naik mobil pribadi? Atau masih tetep buang sampah sembarangan? Nggak bisa berbuat apa-apa ngeliat gedung-gedung baru ngambil lahan hijau? Ya udah, nggak usah kebanyakan nyalahin pemerintah. Cari celah, nikmati sajalah. Kalau perlu (dan bisa) malah bantu cari solusi dari permasalahan. Sampaikan kepada pihak yang benar dan berkaitan. Itu baru namanya kritik untuk pembangunan supaya bisa lebih baik di masa depan.

Kita nyanyi yuk. #Siapa suruh datang Jakarta//Siapa suruh datang Jakarta//Sendiri susah sendiri rasa//edoe…. sayang….#

Kalau Jakarta lagi “nggak ramah”, terus kita cuma bisa (selalu) marah-marah, lupa ya kalau cari uangnya juga di Jakarta?? Merasa rugi udah bayar pajak? Oke deh, kalau gitu pindah aja dari Jakarta dan cari tempat yang nggak usah bayar pajak 😉

Selagi masih ingin tinggal di Jakarta, bantu Jakarta semampu kita. Dimulai dari diri sendiri, dari hal yang “kecil”.

We Can Do Better, People.


Keluar dari Jakarta.

Negara kita dirundung duka. Bencana alam mulai dari Wasior, Tsunami di Mentawai, dan Merapi yang meletus di Yogyakarta. Kemana ormas-ormas yang (suka) mengatasnamakan agama dan menginginkan jihad?? Kemana orang-orang dan mahasiswa yang selalu bersemangat demo di jalanan??

Kenapa ormas-ormas itu nggak meramai-ramai datang ke TKP bencana? Atau berbondong bantu kumpulkan bantuan? Para pendemo harusnya bisa “berdemo” menyerukan cara bagaimana bisa membantu yang sedang membutuhkan. Mengingatkan masyarakat lainnya untuk tidak hanya berdiam.

We Can Do Better, People.

Bukan waktunya terlalu sibuk menuding pemerintah, bukan saatnya menjelekkan Presiden. Ada yang bilang ini tanda akhir jaman. Udah? Gitu aja? So what?? Terus kenapa??

Kita masih hidup di dunia. Nggak usah kebanyakan mengkambing hitamkan akhir jaman atau semacamnya. Tahu nggak, bencana ada sebagai tanda untuk berkaca serta ladang amal buat manusia.

We Can Do Better, People.

Kalau kamu bisa nonton David Foster, bisa makan di mall, malu lah kalau nggak menyisihkan buat membantu mereka yang kesulitan?!

Setiap hari rata-rata makan siang kamu 15.000? Pasti bisa dong menyisihkan 5000 setiap hari dalam hitungan seminggu buat makan mereka yg lagi butuh bahan makanan?!

Buat yang masih sekolah atau kuliah, bisa “patungan” sama temen-temen kumpulin sumbangan buat bencana alam.

We Can Do Better, People.

Nggak usah selalu uang. Periksa lemari di kamar. Cari pakaian yang bisa disumbangkan.

Punya uang pas-pas-an, baju udah banyak yang dikasih ke orang. Bantu doa tulus dari hati yang paling dalam kalau bisa nggak usah punya keinginan memperlihatkan ke orang-orang.

Media sosial manfaatkan secara maksimal. Berbagi informasi bencana. Berbagi cara untuk berbagi. Kalau kata adik saya, sekecil apapun hal yang kamu bagi mungkin saja berpengaruh banyak buat orang lain. Meskipun itu hanya sebuah status fb atau timeline twitter.

We Can Do Better, People.

Bank BCA, KCU Thamrin Jakarta, Nomor Rekening 206.300668.8, atas nama Kantor Pusat PMI. Bank Mandiri, KCP JKT Krakatau Steel, Nomor Rekening: 070-00-0011601-7, atas nama Palang Merah Indonesia.  BRI, KC Pancoran, Jakarta, Nomor Rekening: 0390-01-000030-30-3, atas nama Palang Merah Indonesia.

Eits, jangan langsung transfer. Cek dulu secara langsung di website PMI, sekalian cari tahu info lebih lanjut 😉

Atau kamu tinggal googling tempat lain yang juga menyalurkan bantuan.

Indonesia punya kita (semua). Bukan cuma Presiden dan Pemerintah saja yang harus berusaha. Kita juga! Pray for Indonesia, Act For Indonesia. Lakukan yang lebih nyata.

Come on! WE CAN DO BETTER, PEOPLE!


*gambar diambil dari www.holdyourpeace.net

Indonesiaku, Indonesiamu

Readers..

Kamis lalu kita semua menerima berita duka cita atas wafatnya Sang Maestro Keroncong, Gesang Martohartono dalam usia 92 tahun. Bengawan Solo adalah salah satu lagu ciptaannya yang mengharumkan Indonesia di mancanegara. Ya, Bengawan Solo memang mendunia.

Gesang, Sang Maestri Keroncong

Gesang, Sang Maestro Keroncong

Lagu ini diciptakan pada tahun 1940, ketika ia beusia 23 tahun. Gesang muda ketika itu sedang duduk di tepi Bengawan Solo, ia yang selalu kagum dengan sungai tersebut, terinspirasi untuk menciptakan sebuah lagu. Proses penciptaan lagu ini memakan waktu sekitar 6 bulan. Lagu Bengawan Solo juga memiliki popularitas tersendiri di luar negeri, terutama di Jepang. Bengawan Solo sempat digunakan dalam salah satu film layar lebar Jepang.

Menjelang meninggalnya, Gesang sempat meminta salah satu keluarganya untuk menuliskan beberapa  lirik lagu ciptaannya seperti Bengawan Solo, Sapu Tangan dan Jembatan Merah. Gesang juga pernah berpesan pada Bondan Prakoso untuk melestarikan music keroncong. Bondan Prakoso memang membentuk sebuah grup music bernama ‘Keroncong Protol’. Sebuah grup musik yang ingin mengangkat music tradisional Indonesia menjadi lebih akrab ditelinga anak mudanya a.k.a campursari gaya anak muda.

Ratusan pelajar dan masyarakat Solo mengantarkan Gesang ke peristirahatan terakhirnya dengan menyanyikan lagu Bengawan Solo. Saya membayangkan jika saya berada diantara mereka pasti perasaan ini terasa sesak. Menyanyikan lagu karya salah satu maestro Indonesia ketika kepergiannya, bagaimana itu tidak menjadi sesuatu yang menyedihkan sekaligus mengharukan.

Pagi tadi, Minggu, 23 Mei 2010 berita duka kembali terdengar. Ibu Hasri Ainun Habibie wafat kemarin sore waktu Jerman atau semalam waktu Jakarta dalam usia 72 tahun di rumah sakit Ludwig-Maximilians-Universitat, Klinikum Gro`hadern, Munchen, Jerman. Menurut rencana jenazahnya akan dipulangkan dari Jerman ke Indonesia pada Selasa (26/5).

Ainun Habibie

Ainun Habibie

Saya melihat tayangan mengenang Ibu Ainun di salah satu stasiun TV. Kembali mata saya berkaca-kaca melihat tayangan yang menggambarkan bagaimana Ibu Ainun begitu dekat dengan Bapak Habibie, Mantan Presiden ke-3 Republik ini.

Kalian boleh mengatakan saya cengeng. Ya, whatever.

Ibu Ainun memiliki jiwa sosial tinggi, terutama dengan dibentuknya yayasan beasiswa ORBIT dan Bank Mata untuk penyantun Mata Tunanetra.

PIhak keluarga meminta dalam rangka mengenang kepergian Almarhumah, sebaiknya ucapan belasungkawa tidak berupa karangan bunga, namun dimohon untuk menyumbangkan kepada yayasan yang selama hidupnya memang berati bagi Ibu Ainun. Ini ada dua maksud agar melestarikan amal sosial bagi ibu. Yang kedua, bagi yang menyumbang juga lebih berarti karena kalau hanya rangkaian bunga tidak lama paling dibuang.

See?? Bahkan pada saat meninggalnya, Ibu Ainun masih bisa membuat orang lain beramal.

Ketika saya menyadari orang-orang yang telah berbuat banyak untuk negeri ini berpulang biasanya saya akan terpaku, mengingat apa yang telah mereka lakukan selama ini, mengingat apa saja yang telah tertangkap di kepala dan mata saya tentang mereka. Meskipun saya tidak pernah bertemu mereka secara langsung.

Satu pertanyaan teman-teman.. Apakah kita dapat berbuat sama baiknya dengan mereka untuk negeri ini? Atau paling tidak hampir menyamai apa yang telah mereka perbuat.. Atau paling tidak lainnya adalah… Dapat “mempengaruhi”orang lain/sekeliling kita untuk berbuat sesuatu yang baik, yang berguna untuk bagian-bagian dari negeri ini..

Nasionalis, Idealis, namun harus diimbangin dengan kerealistisan. Atau mungkin kita masih sebatas “Hanya bisa complain?” Are You?

*(Menundukkan Kepala) Tuhan, terimalah mereka disisi Mu. Terima segala amal dan ibadahnya. Ampuni segala dosa-dosanya. Dan bantulah kami untuk meneruskan segala langkah dan niat baik mereka. Amin.

Ah.. saya jadi teringat ketika perhelatan Piala Thomas dan Uber digelar. Meski Indonesia belum berhasil membawa pulang Piala Uber dan Thomas ke Indonesia, namun para supporter Indonesia di Malaysia tetap menyemangati Tim Thomas dan Uber. Mereka semua seakan ingin menunjukkan penghormatan yang besar atas perjuangan setiap orang yang ada di tim tersebut. That’s Great!

O iya, ingat nggak saya pernah posting kalau saya koleksi kaos-kaos Indonesia. Itu tuh yang ada tulisan atau gambar tentang daerah atau propinsi yang ada di Indonesia.

Sejak terakhir saya posting tentang kaos-kaos itu (klik disini), sekarang koleksi saya bertambah tiga buah.

BANDUNG

BANDUNG

Pertama, saya titip Mba Ida (teman kantor saya) waktu dia ke Bandung untuk acara kantor.

PANGANDARAN

PANGANDARAN

Kedua, saya dapat kaos oleh-oleh dari Nda waktu dia ke Pangandaran buat “menyepi” hehehe. Sebelumnya, waktu Nda ke Belitong untuk sebuah pekerjaan, dia juga membawakan saya kaos bertuliskan Belitong. Eh, Nda juga punya blog loh. Bisa dilihat disini www.justordianrynda.blogspot.com

TORAJA

TORAJA

Ketiga, what a surprise, Dina mengirimkan sebuah kaos dari Toraja a.k.a Makasar kepada saya. Ternyata adiknya Dina bekerja di Makasar dan melalui adiknya itu Dina membelikan saya sebuah Kaos Toraja. Huaaaaa Senenggggg Banget!

To All, Terimakasih buat kaos-kaosnyaaaa! ^_^

Seorang teman yang sempat mengetahui bahwa saya mengoleksi kaos-kaos seperti itu pernah berkata, “Kaos-kaos begitukan bias dibeli di pasar-pasar. Kayak orang mau jualan aja loe. Mendingan tu yang dari Singapura, atau Vietnam, atau Negara mana kek gitu. Lebih prestise.”

Saya tersenyum, dan hanya menjawab, “Aku orang Indonesia. Bukan orang Singapura, Vietnam, atau Negara lain.”

Buat saya, Indonesia itu nggak kurang prestise dari Negara manapun di dunia. Menurut kamu?

Dan yang ini

Muka Terbaret Sesuatu

Muka Terbaret Sesuatu

Sebelah Kiri Juga Tapi Gak Begitu Tebal

Sebelah Kiri Juga Tapi Gak Begitu Tebal

No, no, ini memang bukan kaos Indonesia. Ini juga bukan design untuk sebuah kaos. Ini wajah saya. Lihat ada garis menghiasi pinggir pipi saya? Awalnya sempat berdarah. Kalau ditanya kenapa, saya jawab, “Nggak tahu.” Yang pasti sempet periihhhhhhh. Ah y sudahlah 😀

Adek menertawakan wajah saya itu ketika kami ke Ambassador untuk menginstal ulang Windows 7 di netbook saya.

Sedangkan Nda a.k.a Teteh, di telepon dia bilang, “Lo jadi si codet dari Jatiwaringin ya Ti?!” Siyal. Nggak secodet itukan?!

Well Folks, I’m hungry. Need to eat right now. So, see ya!

Dari segala sumber

Orang Indonesia yang Jadi Pahlawan di Korea

Paling kanan adalah Ahmad Mukhlis Yusuf - Dirut ANTARA

Paling kanan adalah Ahmad Mukhlis Yusuf - Dirut ANTARA

Di tengah duka bangsa Korea yang masih sangat dalam terasa akibat tenggelamnya kapal perang Cheonan yang menewaskan 46 prajurit angkatan laut, nama Indonesia harum dipuji di negeri ginseng itu.

Ada orang Indonesia yang dipandang sebagai pahlawan dan pemberi inspirasi dalam musibah yang menggetarkan hati dan meningkatkan ketegangan di semenanjung Korea tersebut. Penghargaan terhadap orang Indonesia itu disampaikan pejabat dan media setempat.

Pada 26 Maret 2010 sebuah Korvet Angkatan Laut dengan 104 awak kapal sedang patroli rutin di perairan dekat perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara. Tiba-tiba saja terjadi ledakan dahsyat di buritan. Mesin perang itu nyaris terbelah dua dan tenggelam.

Saat itu pukul 21:00 waktu setempat. Tempat di Laut Kuning, dekat Kepulauan Baengyeong. Malam mulai gelap ketika operasi penyelamatan dilakukan oleh penjaga pantai dibantu oleh nelayan pencari ikan yang kebetulan berada di sekitar lokasi. Mereka berhasil menyelamatkan 58 orang. Yang lainnya tewas dan menghilang.

Salah satu kapal nelayan yang ikut dalam operasi pencarian dan penyelamatan adalah kapal ikan Geumyang No.98. Di kapal ikan itu ada Lambang Nurcahyo (36) dan Yusuf Harefa (35), dua pelaut Indonesia. Bersama lima pelaut Korea Selatan, awak Geumyang terlibat dalam aksi heroik penyelamatan di laut bebas, gelap dan berbahaya.

Malang tak bisa diraih, untung tak bisa ditolak. Kapal ikan Geumyang di tengah aksi penyelamatan bertabrakan dengan kapal kargo Kamboja. Seluruh awaknya ikut tenggelam.

Jenazah Lambang Nurcahyo, bapak dua anak, ditemukan beberapa hari kemudian. Namun si lajang Yusuf Harefa hingga kini masih hilang. Upaya kemanusiaan pelaut Indonesia itu diakui dan dihormati bangsa Korea yang tengah berkabung. Mereka wafat dalam upaya mulia.

Surat kabar Korea Times hari Kamis (22/4) memuji Nurcahyo dan Harefa. Dalam tajuk rencana berjudul “Indonesian heroes”, Korea Times menulis bahwa “Seperti para pelaut AL yang gugur itu, para nelayan Geumyang itu juga merupakan pahlawan-pahlawan yang telah mengambil risiko nyawa mereka untuk menyelamatkan korban-korban Cheonan?.

Pemerintah Korea Selatan berjanji memberikan santunan baik kepada awak kapal Korsel maupun Indonesia. Menteri Luar Negeri Yu Mung-hwan menyampaikan simpati dan telah menulis surat sehubungan dengan tragedi tersebut kepada keluarga Nurcahyo dan Harefa.

“Kami menghargai jasa-jasa kedua pelaut Indonesia yang tewas dalam insiden tersebut. Kami sungguh menyesalkan telah terjadinya peristiwa ini,” kata Yu Mung-hwan.

Jadi pusat perhatian

Orang Indonesia lain yang mendapat penghormatan di Seoul adalah Dirut Perum LKBN ANTARA Dr. Ahmad Mukhlis Yusuf. Ia menjadi pusat perhatian di Seoul karena selaku Presiden Organisasi Kantor Berita Asia Pasifik (OANA) ia meminta pimpinan media dunia yang berkumpul di negeri itu untuk berdiri dan mengheningkan cipta atas musibah yang meningkatkan ketegangan di semenanjung Korea.

“Semoga arwah mereka beristirahat dengan damai dan yang hilang bisa segera ditemukan,” katanya dalam hening cipta yang diikuti 68 pimpinan kantor berita dari Asia Pasifik, Arab, Mediterania, Eropa dan Balkan serta Perdana Menteri Korea Selatan Chung Un-Chan.

Mukhlis Yusuf sudah tiga tahun terakhir ini memimpin OANA, organisasi kantor berita dari 33 negara di kawasan Asia Pasifik.

Bekerja sama dengan kantor berita Yonhap, OANA mengumpulkan para tokoh media di Seoul untuk membahas tantangan dan peluang yang dihadapi kantor berita pada era konvergensi multimedia. Namun, OANA Summit Congress dibayangi kasus tenggelamnya Cheonan.

Meski belum bisa dibuktikan keterlibatan Korea Utara dalam insiden itu, laporan media setempat menyebut kemungkinan kapal tersebut ditorpedo atau terkena ranjau laut yang disebar Pyongyang.

Ketika membawa para tokoh media dari seluruh dunia itu bertemu dengan Presiden Lee Myung-bak di Istana Biru, Mukhlis menyampaikan belasungkawa dan doa kepada para korban. Presiden Lee tampak tergugah dengan pidato pengantar Mukhlis yang tidak diduga menyinggung insiden Cheonan dan doa agar bangsa Korea bisa mengatasi musibah itu dengan penuh kesabaran dan perdamaian.

Pidato Mukhlis itulah yang mendorong Presiden Lee menyatakan sikapnya atas musibah Cheonan. Sikap itulah yang kemudian menjadi berita utama di seluruh dunia. Di koran-koran setempat, seperti The Korean Times dan Korean Herald, berita pertemuan Mukhlis Yusuf dan Presiden Lee menjadi berita utama di halaman depan. Foto Mukhlis pun menghiasi halaman media Seoul.

“Saya mulai mengagumi anda,” kata Park Jung-Chan, Presiden kantor berita Korea Selatan Yonhap kepada Mukhlis Yusuf pada pidato jamuan makan malam selepas pertemuan di Istana Biru.

“Anda berhasil membuat Presiden Lee angkat bicara soal Cheonan,” katanya.

Presiden Lee dan seluruh bangsa Korea memang sangat terguncang dengan musibah itu. Lee langsung meninjau operasi pencarian dan bertemu marinir yang ditempatkan di barat Pulau Baengnyeong.

Dengan helikopter, Lee menuju pulau dekat perbatasan Korsel-Korut itu. Kunjungan Lee dimaksudkan untuk menghibur keluarga korban yang menunggu dengan cemas pencarian jasad anggota keluarga mereka. Lee juga memerintah militer agar lebih waspada pasca tenggelamnya Cheonan. Sejak tenggelamnya kapal Cheonan militer diminta benar-benar mempersiapkan diri untuk setiap aktivitas yang dilakukan Korea Utara.

Ketegangan memuncak di semenanjung Korea menyusul insiden itu. Kemungkinan pecah perang baru antar Korea kembali menjadi kekhawatiran dunia. Padahal, Korea Utara memiliki senjata nuklir sebagai pemusnah massal dan rejim di Pyongyang bisa melakukan tindakan tidak terduga.

Namun, kekhawatiran dunia itu bisa diredakan. Menjawab pertanyaan dan pernyataan Mukhlis, Presiden Lee menyatakan tidak akan membalas dendam sekalipun Pyongyang terbukti paling bertanggungjawab atas insiden Cheonan. Perang, menurut Lee, bukan pilihan. Pihaknya membawa kasus ini kepada Dewan Keamanan PBB.

Oleh karena itulah, pemimpin media dari seluruh dunia yang bertemu Presiden Lee, memuji Mukhlis Yusuf. Presiden OANA yang juga Dirut Perum ANTARA itu berhasil menggugah Presiden Lee untuk menyatakan sikapnya yang jelas: tak boleh ada perang lagi di semenanjung Korea.

(Sumber: http://www.antaranews.com)

INDONESIA (MASIH) PUNYA KANTOR BERITA

Kantor Berita ANTARA

Logo ANTARA

ANTARA lahir 72 tahun yang lalu, tepatnya 13 Desember 1937. Para pendiri ANTARA adalah A.M. Sipahoetar, Soemanang, Adam Malik dan Pandoe Kartawigoena. Alasan didirikannya ANTARA karena mereka merasa tidak puas tehadap pemberitaan tentang peristiwa-peristiwa di Hindia Belanda terutama mengenai kehidupan sosial politik masyarakat Indonesia, yang disiarkan Aneta (Algemeen Nieuws-en Telegraaf-Agentschap). Kantor berita Belanda itu menyebarkan hasil liputannya bukan saja di Hindia Belanda, melainkan juga di Eropa. Kalangan pergerakkan kebangsaan Indonesia, baik yang berada di Hindia Belanda maupun di Eropa, menganggap berita di Aneta berat sebelah. Aneta bahkan sering sama sekali tidak memberitakan peristiwa-peristiwa politik yang terjadi di kalangan masyarakat Indonesia.

Gedung ANTARA lama di Pasar Baru

Pada 17 Agustus 1945 ANTARA lah yang untuk pertama kalinya menyebarkan berita proklamasi kemerdekaan Indonesia menggunakan pemancar dan buletin ke seluruh belahan Indonesia dan dunia. Gedung tempat ANTARA “berpartisipasi” dalam salah satu catatan sejarah besar Republik ini sekarang masih ada. Letaknya di Jl. ANTARA No. 57 -59, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Terletak hanya beberapa meter dari pintu masuk utama Pasar Baru. Saat ini gedung ANTARA Pasar Baru sering digunakan untuk pameran foto dan juga pelatihan jurnalistik. Sedangkan kantor pusat ANTARA, termasuk bagian Redaksi berada di Wisma ANTARA, Jl. Medan Merdeka Selatan No. 17 Jakarta Pusat.

Wisma ANTARA Jakarta

Wisma ANTARA Jakarta

Sebagai sebuah Kantor Berita, ANTARA bertugas untuk melakukan peliputan dan penyebarluasan informasi yang cepat, akurat, dan penting, ke seluruh wilayah Indonesia dan dunia internasional. ANTARA memiliki 32 Biro di 32 Propinsi di Indonesia. ANTARA juga memiliki beberapa perwakilan di luar negeri.

Mulai akhir tahun 90an, pengiriman berita kepada para pelanggannya menggunakan satelit/VSAT (Very Small Aperture Terminal). 18 Juli 2007 ANTARA mulai menyandang status Perusahaan Umum. Dengan begitu nama lengkap ANTARA berubah menjadi Perum LKBN ANTARA (LKBN kependekan dari Lembaga Kantor Berita Nasional). Pemberian status Perum guna memudahkan kerja kantor berita perjuangan tersebut untuk menghadapi era konvergensi media dan tantangan bisnis media yang kian mengglobal. Sebagian berita ANTARA juga diformat untuk publik melalui portal berita publik http://www.antaranews.com.

Saat ini Perum LKBN ANTARA menghasilkan berbagai konten berita teks, foto dan video yang menyasar lebih dari 300 pelanggan media. Pada 2007 kehadiran ANTARA semakin diakui oleh dunia internasional dengan terpilih menjadi Presiden OANA atau Organisasi Kantor Berita Se-Asia Pasific.

Portal Berita antaranews.com

“We Turn Information into Knowledge” menjadi slogan www.antaranews.com, portal berita ANTARA yang merupakan salah satu unit bisnis Perum LKBN ANTARA. antaranews.com dapat diakses secara bebas oleh segala lapisan masyarakat dan menampilkan berita-berita yang terjaga keakuratannya. Sesuai dengan slogan yang dimiliki, antaranews.com adalah satu bukti bahwa Kantor Berita ANTARA hadir untuk mewujudkan masyarakat bijak serta berbasis pengetahuan.

ANTARA terus berbenah diri. Bukan hanya agar menjadi kantor berita berkelas dunia, namun juga agar (kembali) dapat menjadi kebanggaan Indonesia.

(dari berbagai sumber)

Ekspresi Banggaku Jadi Seorang Indonesia

Belakangan ini aku lagi suka sekali mengkoleksi kaos-kaos bertuliskan daerah-daerah di Indonesia. Aku punya beberapa. Ada yang beli sendiri, ada juga yang oleh-oleh.  Ini salah satu caraku menunjukkan aku bangga menjadi orang Indonesia. Meski kecintaanku kepada Indonesia benar-benar tidak bisa diukur hanya dari kaos-kaos ini.

Lombok


Bali


Bali juga

Yogyakarta


Kalimantan Timur


Belitong


Berastagi, Medan


Dan tentu saja karena saya tinggal di Ibukota tercinta, maka saya harus punya yang ini


Jakarta


Seperti yang aku bilang tadi. Kebanggaan dan kecintaanku terhadap Indonesia lebih dari keberadaan kaos-kaos itu. Dengan memakai kaos seperti itu, hanya sebagai salah satu ekspresiku akan cintaku terhadap Indonesia. Kamu pasti punya cara sendiri. Iya kan?! 😉

Ps: Kalau mau kasih aku oleh-oleh waktu kamu habis keluar kota, kaos seperti ini akan aku terima dengan sangat senangggg sekaliii :p Hihihihi.