Kamu dan Dia

Hari ini kamu yang telah mengingatkanku pada dia
Kekesalanmu padaku..
Teriakanmu..
Ketidaksabaranmu..
Semua itu mengingatkan aku pada dia.

Dia yang telah aku hilangkan dari daftar keberadaan maya.
Yang ku biarkan pergi pada akhirnya.
Yang aku anggap hanya sebagai bagian dari masa lalu.
Yang mendapat ijinku untuk membisu.

Dan ya..
Kamu terkadang memang mirip dengannya.
Kita terkadang mirip aku dan dia.
Tapi aku dan dia bisa hampa, sedang kita tidak.

Namun hari ini kamu yang telah mengingatkanku kembali pada dia
Kekesalanmu padaku.
Teriakanmu.
Ketidaksabaranmu.
Semua itu mengingatkan aku pada dia.
Kita pada kami..

Kenapa Dia Menangis?

Dia menangis dalam diam.

Airmata sedikit membuat wajah menjadi kusam.

Dan awalnya dia ingin menyembunyikan.

Tak ingin kamu tahu apa yang ia pikirkan.


Airmata mengalir ketika doa tentangmu teruntai di hati.

Memilikimu seperti sebuah mimpi.

Dia memelukmu semakin erat.

Buat dia kamu lebih dari si pelepas penat.


Kenapa dia menangis?

Bukan karena kamu nakal.

Apalagi karena kamu bengal.

Bukan karena kata-katamu yang kadang begitu pedas.

Bukan karena hatinya sedang panas.


Kenapa dia menangis?

”Apalagi yang dapat aku lakukan untukmu?”

”Apalagi yang dapat menyenangkanmu?”

”Apalagi yang bisa membuat waktu lebih berarti lagi?”

”Apalagi? Apalagi? Apalagi?”


Kenapa dia menangis?

Karena dia sedang mencari cara untuk membuatmu lebih bahagia.