UI dan Anak UI

Gw: Coba deh follow twitternya juga.

Dia: Nggak ah!! Ngapain!

Gw: Supaya bisa bantuin gw dapetin informasinya juga..

Dia: Idih males!! Bukan kampus gw!! Ngapain!!

Gw: ……….

Yang ada di hati saya ketika salah satu orang terdekat saya bicara begitu dengan nada bicara yang begitu adalah… Kecewa…


Universitas Indonesia

Alasan terkuat saya masuk UI adalah karena ayah mengancam saya akan menguliahkan saya di kampus dekat rumah kalau saya nggak masuk UI. Saya nggak mau. Kalau saya kuliah dekat rumah berarti kehidupan saya akan di situ-situ saja. Orang tua saya bukan orang kaya yang bisa menguliahkan anak-anaknya di kampus swasta ternama yang mahal bayarannya.

Akhirnya memang saya masuk FISIP UI. Tapi bukan lewat UMPTN (waktu itu), tapi lewat seleksi calon mahasiswa D3 UI. Banyak orang menyepelekan. Menganggap masuk D3 UI itu gampang, tes nya Cuma legalitas yang bisa asal-asalan. Tetangga saya ikut-ikutan mencoba, tapi dia gagal.

Lulus D3 saya ingin langsung melanjutkan S1 di tempat yang sama. Namun semuanya nggak berjalan selancar yang saya inginkan. Saya nggak lulus tes menuju S1 UI. Meskipun saya anak D3 UI, bukan berarti bisa melenggang begitu saja untuk dapat meneruskan ke S1.

Nggak lolos tes sempat membuat saya down. Saya menunda kuliah saya setahun. Setahun kemudian saya mencoba ikut tes lagi. Alhamdulillah, saya berhasil. Salah seorang teman seangkatan saya sampai 3x ikut tes S1 ekstensi UI tapi nggak juga lolos. Akhirnya ia memutuskan untuk meneruskan kuliahnya di kampus lain.

UI. Kampusnya yang luas dan hijau memang memberi suasana yang berbeda dibanding kampus-kampus lainnya di Indonesia, terutama di Jakarta. Saya ini malas belajar. Sejak kecil saya nggak suka sekolah lengkap dengan peraturan-peraturannya. Untuk saya pribadi, kuliah di UI membuat saya mau nggak mau harus membuat otak saya berputar lebih cepat. Orangtua, terutama ayah nggak ingin anaknya mendapat IPK yang standart (menurut dia). Harus 3 koma. Saya pun berusaha “’mengabulkan” permintaan ayah. IPK saya 3 koma sedikit. Hehehehe.

Lingkungan di UI entah bagaimana sadar atau tidak sadar menuntut saya untuk mau belajar lebih sungguh-sungguh. Yah, paling enggak mem-fotokopi catatan teman-teman jika mau ujian 😀 Lingkungan kampus membentuk saya menjadi pribadi yang harus mau berjuang untuk mendapatkan sesuatu. Semua orang di lingkungan kampus tampaknya selalu berusaha melakukan yang terbaik yang mereka bisa.

Saya nggak tahu gimana lingkungan di kampus lain. Saya hanya dengar melalui cerita dari teman-teman. Ada yang bilang di kampusnya IPK tinggi itu mudah didapat, ada yang bilang di kampusnya pada saat di kelas anak-anaknya bukannya malah ngomongin pelajaran tapi malah ngomongin trend fashion terkini, bla bla bla.

Saya dan teman-teman di kampus?? Kami tetap meluangkan waktu buat k mall, buat ngegosip, dan juga buat ngomongin bahan presentasi 😀


Anak UI

Kalau ada orang nanya saya kuliah di mana, saya lebih sering akan menjawab dengan nada suara yang rendah. Kadang orang malah harus nanya ulang karena mereka nggak dengar jawaban saya. Kenapa saya begitu??? Karena saya agak gimanaaa gituuuu dengan reaksi orang begitu tahu saya kuliah di UI. Reaksi mereka misalnya seperti:

“Wah, pinter dong!”

“Waduh, hebat!”

Pokoknya yang semacam itu.

Reaksi balik saya adalah: “Biasa aja….”

Bukan basa-basi saya bilang begitu. Dalam hati, saya memang suka bilang, “Bisa nggak sih biasa aja reaksinya…”

Sampai sekarang ketika saya sudah bekerja, kadang masih ada orang-orang yang reaksinya seperti itu. Well, selain reaksi-reaksi seperti itu saya juga nggak menutup mata kalau ada reaksi-reaksi sinis, jutek tentang UI dan anak UI. Contohnya seperti dialog antara saya dengan seseorang di awal posting ini.

Sebenarnya kalau seseorang itu mengungkapkan ketidakinginannya untuk memfollow twitternya UI dengan nada yang biasa saja, saya juga nggak akan merasa gimana-gimana. Toh saya juga minta tolong dia follow hanya karena ada kepentingan tertentu. Nanti kalau kepentingan saya sudah lewat, dia mau unfollow juga silahkan saja. Saya nggak keberatan. Tapi dengan nada suara sekaligus jawaban yang keluar dari mulutnya saya jadi bertanya-tanya, memang follow twitternya UI segitu nistanya buat anak kampus lain??? Segitu malesnya???

Dan saya kecewa terhadap dia, salah satu orang terdekat saya yang ternyata masih “memandang” UI seperti beberapa orang di luar sana. Saya kecewa dengan caranya bicara saat itu. Dan saya belajar, untuk lebih “menghargai” perasaan orang lain, termasuk perasaan orang-orang terdekat saya dengan cara bicara saya.


UI dan Anak UI

Ada mantan pacar yang pernah bilang begini sama saya waktu pdkt:

Mantan pacar: “Aku tuh minder.”

Gw: “Minder kenapa??”

Mantan pacar: “Lingkungan kita beda.”

Gw: “Lingkungan yang mana??”

Mantan pacar: “Misalnya kampus. Kamu tuh kuliah di UI, sedangkan aku cuma di (sensor)”

So what?? Saya tetep mau jadi pacarnya. Ketika kami putus pun penyebabnya bukan karena dia bukan anak UI.

Bisa kuliah di UI itu merupakan bagian dari jalan hidup saya, setelah saya berusaha dan berdoa (untuk “mengabulkan” keinginan orangtua).

Sebagai (alumni) anak UI, saya nggak merasa menjadi seseorang yang lebih pintar dari orang-orang di sekitar saya. Ayah Ibu saya mungkin bangga karena anaknya meraih status Sarjana di UI, tapi biarlah itu menjadi kebanggan orangtua saya. Setiap orangtua saya percaya pasti memiliki kebanggaan tersendiri terhadap anak-anaknya. Saya merasa biasa-biasa saja.

UI memang menjadi bagian dari pembentukan pribadi saya saat ini. Namun bukan berarti saya merasa bangga sebangga-bangganya hanya karena saya kuliah di sana.

Jadi anak UI bukan berarti meninggikan harkat martabat seseorang menjadi lebih tinggi dari orang-orang yang kuliah di kampus lain di negeri ini. Jadi anak UI nggak akan berarti apa-apa kalau dalam kehidupan nyata dia nggak bisa menghargai keberadaan dan perasaan orang lain.

Knowledge and experience are power. But character is more.


gambar dari sini dan sini

Advertisements

Tak Usah Disamakan, Biarkan Beragam

Keragaman bukan hanya tentang agama, tentang pandangan politik, tentang darimana kita berasal. Dengan atau tanpa kita sadari keragaman karakter menjadi hal yang begitu dekat dalam keseharian kita.

Berbagai macam orang dengan berbagai macam karakter hadir di sekeliling kita setiap harinya. Bahkan kita sendiri sebagai seorang individu memiliki lebih dari satu karakter. Karakter negatif dan positif berbaur jadi satu membentuk pribadi yang harus terus belajar memaknai hidup.

Karakter. Seorang sahabat pernah berkata, “Knowledge and Experiences are power, but character is more!”. Pengetahuan dan pengalaman memang sebuah kekuatan bagi seseorang. Namun tanpa karakter yang kuat, dua hal tersebut bukan apa-apa. Karakter membuat kita belajar, karakter membuat kita lebih mengerti keragaman bukan hanya berasal dari latar belakang tapi juga dari pribadi diri. Keragaman karakter membuat kita, manusia dapat saling bersinggungan keras. Membuat seseorang mengernyitkan dahi sambil bertanya dalam hati “mengapa orang ini begini?” , “Mengapa orang itu begitu?”, “Mengapa mereka seolah susah memahamiku?”

Keragaman tidak hadir hanya untuk dipandang sebagai perbedaan. Keragaman perlu dikomunikasikan agar dapat tercipta keterikatan, saling pengertian, serta keselarasan. Oh ya, karena keragaman juga membuat hidup menjadi terseimbangkan. Bagaimana bisa mengerti apa itu ‘Positif’ kalau tidak pernah tahu apa itu ‘negatif’? Individu yang pendiam memerlukan individu yang suka bicara untuk meramaikan dunianya. Seseorang yang pemalu akan terpacu adrenalinnya ketika memiliki teman dengan spotanitas tinggi. Karakter yang meledak-ledak dapat terhaluskan oleh karakter kalem. Lalu, si kalem akhirnya dapat dibuat tertawa terbahak-bahak oleh si ekspresif. Belajar meragamkan perlakuan/apa yang kita lakukan kepada individu satu dan individu lainnya.

 

 

Apakah kamu masih suka membayangkan bagaimana enaknya jika hidup hanya mempertemukan kita dengan orang-orang yang memiliki kesamaan karakter? Awalnya mungkin akan terasa menyenangkan. Awalnya kesamaan menciptakan kemudahan. Namun apakah kamu pernah menyadari akan ada lebih banyak pembelajaran diperoleh dari perbedaan?

Ketika kamu menghadapi hambatan dalam berhadapan dengan orang lain, pernahkah kamu berkata, “Ah, ini hanya soal perbedaan karakter. Aku hanya harus lebih mengerti”?

Keragaman karakter memang tidak selalu berujung baik (menurut versi kita). Kalau memang membuat kita akhirnya terpisahkan, ambil itu sebagai perbedaan jalan. Apapun hasil akhirnya, yang terpenting adalah apa saja yang sudah kita pelajari dari prosesnya, dengan tidak memaksakan agar keragaman yang ada menjadi sama.

Komunikasi, lebih saling mengerti dan bersyukur adalah cara menghadapi keragaman karakter. Pelangi akan terlihat kurang indah jika kehilangan salah satu warnanya. Ia akan terlihat sangat indah jika semua warna lengkap tertangkap oleh mata. Keragaman karakter dengan adikmu, kakakmu, sahabatmu, temanmu, orang tua mu, pacar mu, keragaman memiliki sesuatu untuk dirasakan, untuk dimengerti dan untuk dinikmati.


Mari teman, rayakan keragaman! ^_^