DALAM SEBUAH JARAK

Dekat.

Dalam jarak? Dalam rasa? Dalam ikatan?

 

Jauh.

Dalam jarak? Dalam rasa? Dalam ikatan?

 

Jauh yang mendekatkan.

Ketika tak sering saling melihat, namun ada cerita yang mengikat.

Saat sering berada di hadapan, tapi saling sibuk sendirian, ikatan mudah terlepaskan.

 

Ada apa, sayang?

 

Aku tak tahu sudah seberapa panjang langkahmu.

Aku tak tahu bagaimana pencapaianmu.

Aku tak lagi tahu apa yang sedang terjadi dalam hidupmu.

 

Aku coba ingin tahu, mencari tahu.

Agar bisa mendampingimu.

Tapi seolah sedang ada jarak di hadapku.

Tak tahu siapa yang membuat, aku atau kamu?

 

Aku harus bagaimana, sayang?

Advertisements

Saat Kelelahan

Energi tinggal sisa
Tubuh mencari banyak daya
Setengah nyawa
Bukan apa-apa

Ini hanya kelelahan semata

Bolehkah bersandar
Di bahu mu
Bisakah dapat kehangatan
Di peluk mu

Bolehkah sedikit bermanja
Usap-usap punggung agak lama
Genggaman tangan akan bermakna

Karena sedang kelelahan
Ingin pulang
Beristirahat sebentar

                                                                                                                    pic: hutantropis.com

Menjelang 40 Hari Beliau Pergi

Menjelang 40 hari beliau pergi. Ibu saya berkata 40harian akan diadakan di kampung halaman beliau. Beliau adalah nenek saya. Ibu dari ibu saya.

Saya dan adik-adik saya cukup dekat dengan beliau. Tidak dekat-dekat sekali, tapi yah, cukup dekat. Semasa hidupnya beliau lumayan sering menginap di rumah saya untuk jangka waktu berbulan-bulan.

Hampir 40 hari yang lalu, kala itu saya sedang di kantor ketika menerima kabar duka. Sepanjang perjalanan pulang saya sibuk menahan air mata untuk tidak menetes. Namun tidak bisa. Tetap saja air mata itu menetes meski tidak sampai berurai.

Kala itu yang paling saya khawatirkan adalah ibu. Saya khawatir ibu saya mengalami syok. Alhamdulillah itu tidak terjadi. Ibu sudah cukup kuat. Sejak beberapa hari sebelumnya, ketika nenek saya terjatuh di rumah Bude dan sakitnya bertambah parah (beliau tinggal di rumah Bude – Kakak pertama Ibu) Ibu memang sudah berusaha ikhlas akan kemungkinan terburuk.

Saya ikut meronce bunga untuk diletakkan di atas keranda. Saya dan anggota keluarga yang lain mengikuti upacara pelepasan jenazah. Entah atas kekuatan apa saya berada di barisan depan ketika pemakaman berlangsung. Saya melihat bagaimana jenazah beliau dimasukkan ke liang lahat. Sedangkan Ibu saya, Ibu berada agak jauh dari saya di belakang, ditemani adik bungsu saya. Ibu takut tidak kuat melihat “episode” tersebut.

Saya menaburkan bunga di atas pusara beliau. Kemudian berdoa bersama.

Sepulangnya dari pemakaman terbersit di kepala saya, “Bagaimana bila saya tiada nanti?”, ketika nafas tidak lagi berhembus dari hidung saya, saat detak nadi tak lagi terasa dan ketika detak jantung tak lagi terdeteksi.. Apakah orang-orang yang saya sayangi akan berada di samping saya? Apakah sahabat-sahabat saya akan langsung datang melihat saya?Dan apakah teman-teman saya rela mengantar saya untuk yang terakhir kalinya disela kesibukan mereka?

Ketika saya dirawat di Rumah Sakit, seseorang yang saya anggap sahabat pernah mengatakan pada saya alasannya tidak datang menjenguk saya, “Soalnya Rumah Sakitnya jauh dari rumah gw. Lagipula mobil gw bensinnya lagi kosong.”

Well.. Kalau nanti makam saya berada jauh dari sahabat-sahabat, teman-teman atau orang-orang tersayang saya, akankah mereka tetap mengantar saya? Akankah mereka tetap rutin menjenguk saya?

Seberapa berartinya saya bagi mereka ketika saya tiada?

Hey.. saya rasa saya hampir melupakan pertanyaan yang paling “penting”. Apa saja yang sudah saya perbuat semasa hidup sehingga saya bisa menjadi seseorang yang patut mereka antar ke peristirahatan terakhir saya? Apa saja yang sudah saya lakukan semasa hidup sehingga dapat menjadi seseorang yang cukup berarti bagi mereka sehingga mereka rela meninggalkan kesibukkannya untuk melihat saya untuk yang terakhir kalinya?

Teman.., Semoga Tuhan selalu memberikan rahmat dan hidayahNya untuk kita.. Amin..

I’M STILL A HUMAN

Human

Human - taken from fotolia.com

Beberapa waktu lalu seorang sahabat menulis dalam blognya. Judul tulisannya kali itu adalah, “I’m only human and I’m selfish.” Sahabat saya itu mengungkapkan sisi manusia yang lain dari dirinya yang mungkin belum dilihat atau diketahui oleh banyak orang. Ia memutuskan untuk menjadi seseorang yang untuk sementara waktu hanya ingin mengutamakan tentang perasaannya sendiri dan tidak begitu mempedulikan apa yang orang lain katakan tentangnya. Sahabat saya untuk sementara waktu hanya ingin didengarkan dan sedang tidak ingin mendengarkan. Untuk semua itu ia memiliki alasan yang menurutnya sangat kuat.

Semua ada waktunya, dan ketika sahabat saya berbagi tentang apa yang ia putuskan, untuk menjadi seseorang yang “egois”, saya menghormati keputusan tersebut tanpa ingin menilai itu benar atau salah. Beberapa orang yang saya tuakan pernah berkata bahwa di dunia ini apa yang benar dan apa yang salah adalah hasil dari kesepakatan antara manusia. Sebenarnya yang bisa menilai sesuatu benar atau salah yang sebenar-benarnya hanya Tuhan. Dan tentang perasaan bagi saya bukan tentang benar atau salah.

Sahabat saya benar, she’s a human and at some time human need to be selfish. Kita selalu perlu waktu untuk memanjakan diri kita sendiri. Tapi tentu saja kita harus mengerti batasannya.

Rasa. Berbagai macam rasa hadir dalam hidup. Rasa yang manusia tidak dapat mengendalikan kapan akan muncul rasa-rasa tersebut. Yang manusia dapat kendalikan adalah akibat atau konsekwensi yang akan ditimbulkan dari rasa tersebut. Contoh, katakan pada saya bagaimana kita bisa mengendalikan munculnya rasa CINTA atau SAYANG? Kamu BISA?

Saya memang tidak ingin berusaha mengendalikan perasaan milik sahabat saya. Entah itu perasaan penatnya, perasaan bosannya, perasaan marahnya, atau perasaan sedihnya sehingga ia mengambil keputusan untuk menjadi orang yang “egois”. Karena setiap manusia berhak merasakan setiap rasa yang ada, selama rasa itu tidak ia pergunakan untuk berbuat yang tidak baik dengan orang-orang disekitarnya.

Saya juga tidak ingin memberikan tengat waktu kepadanya atau memberi  “aba-aba” supaya ia tidak lama-lama dalam menjalani masa “egoisnya” itu. Lama atau cepat tidak akan membuat sahabat saya belajar tentang dirinya lebih jauh. Melainkan rasa cukup atau tidak cukup yang akan membuatnya tahu kapan ia harus kembali seperti semula. Sahabat saya akan jujur pada perasaannya. Pada kriteria-kriteria yang memberinya tanda kapan ia merasa cukup atau belum cukup.

Salah seorang teman dari sahabat saya tersebut mengekspresikan bahwa ia kurang setuju dengan keputusan yang sahabat saya ambil. Well, perbedaan selalu muncul untuk membuat kita belajar, bukan?! Paling tidak belajar untuk menghadapi perbedaan itu sendiri. Jadi, saya tidak ingin mempermasalahkan itu sama sekali karena kita tidak bisa mengatur rasa dan jalan pikiran orang lain. Selama perbedaan itu diekspresikan dengan cara yang baik maka semua yang berada dalam lingkaran perbedaan tersebut akan sama-sama belajar.

Saya. I’m also still a human. Saya punya rasa bosan, rasa marah, rasa lega, rasa tidak puas atau sebaliknya. Ada suatu waktu dimana berbagai rasa itu membuat saya harus mengambil keputusan untuk melindungi diri saya sendiri dan untuk tidak membiarkan orang lain dapat menjatuhkan saya begitu saja. Pernahkah kamu mendengar bahwa kamu tidak akan bisa dijatuhkan oleh siapapun kecuali ketika kamu mengijinkannya?

Manusia tidak pernah tidak terjatuh. Manusia tidak pernah tidak merasakan rasa sakit. Dan manusia wajib berusaha berdiri kembali dan keluar dari rasa sakit itu.

Kamu dan saya mungkin memiliki cara yang berbeda untuk keluar dari rasa sakit. Cara yang berbeda untuk melindungi diri. Selama cara saya dan kamu dikeluarkan tanpa merugikan orang lain, maka menurut saya semua akan baik-baik saja dan lagi-lagi kita akan belajar tentang perbedaan.

Salah satu syarat menjadi dewasa adalah dengan menyadari dan siap menerima setiap konsekwensi dari keputusan yang diambil.

Well, back to the title. I’m just trying to say that I’m also only a human. I’m still a human. Saya punya rasa dan manusia lain tidak berhak mengatur rasa saya. Berdasarkan rasa yang saya miliki, saya juga memiliki hak untuk mengambil sebuah keputusan dengan alasan yang (bagi saya) kuat dan saya harus memperhitungkan konsekwensi apa saja yang akan timbul dari keputusan saya. Jika ada sesuatu yang terjadi diluar perkiraan saya, maka itu adalah takdir.

Jika ada yang bertanya sampai kapan saya akan berada dalam keputusan saya. Maka jawabannya adalah sampai saya merasa cukup. Jangan tanya saya sampai kapan dalam hitungan angka. Karena saya hanya akan menjawab tidak tahu. Selalu ada waktu untuk semuanya, teman.

Oh ya, saya teringat perkataan seorang teman lama. Ia berkata jika kita berbuat baik maka berbuat baiklah karena memang sudah semestinya sebagai manusia kita berbuat baik. Kita berbuat baik bukan karena ingin dianggap baik,bukan  ingin memenuhi norma-norma tentang kebaikan yang pernah diajarkan kepada kita, namun karena hati kita merasa bahwa sudah seharusnya kita berbuat baik. Itu saja.

See ya folks!

🙂